Teori Belajar yang Mendasari Penggunaan Visual


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pesan (message) ialah suatu pola tanda/lambang, baik berupa kata maupun gambar, yang dimaksudkan untuk mengubah prilaku kognitif (berpikir), afektif (bersikap) dan psikomotorik (bertindak) seseorang atau kelompok. Rancangan (design) ialah proses analisis dan sintesis yang dimulai dengan suatu problem komunikasi dan diakhiri dengan rencana solusi operasional.

Kata desain menunjukkan adanya suatu proses dan suatu hasil. Sebagai suatu proses, desain pesan sengaja dilakukan mulai dari analisis masalah pembelajaran hingga pemecahan masalah yang dirumuskan dalam bentuk produk. Produk yang dihasilkan dapat dalam bentuk prototipe, naskah atau story board, dan sebagainya.
Desain pesan meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan atau informasi. Hal tersebut mencakup prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan daya serap yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan atau informasi, agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima. Fleming dan Levie (dalam Seel&Richie, 1994) membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau simbol yang memodifikasi perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor. Desain pesan berurusan dengan tingkat paling mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah. Terdapat teori-teori belajar yang mendasari penggunaan visual agar proses pembelajaran yang didalamya menggunakan desain pesain dapat berjalan lebih optimal.
1.2 Rumusan Masalah
Makalah ini membahas mengenai teori belajar yang mendasari penggunaan visual yang mencakup hal-hal berikut;
1.2.1 Teori Behavioristik
1.2.2 Teori Kognitivistik

1.3 Tujuan
Setelah pembahasan materi, diharapkan mahasiswa dapat menguasi kompetensi-kompetensi berikut;
1.3.1 Mengetahui teori belajar yang mendasari penggunaan visual
1.3.2 Dapat mempraktekkan teori ini dilain kesempatan sebagai seorang teknolog pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
Teori belajar memiliki pengaruh besar pada praktek pembelajaran secara umum, dan pembelajaran berbasis komputer pada khususnya. Hal utama dari dua kelas dominan mengenai teori belajar -teori belajar perilaku (behavioristik) dan kognitif- akan secara singkat disajikan. Setiap teori membuat asumsi kualitatif berbeda tentang bagaimana orang belajar dan mengingat.

2.1 Teori Belajar Behavioristik
Menurut teori belajar behavioristik atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apapun yang berada di luar anda. Ia bisa berupa kejadian, peristiwa ataupun hanya sebuah objek biasa. Sedangkan respon adalah tanggapan anda terhadap stimulus tersebut. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan.

Stimulus dapat dirumuskan sebagai bahan yang dipelajari atau peristiwa pembelajaran yang dapat mendorong siswa memberikan responnya Respon yang diberikan pelajar adalah perilaku yang hanya diketahui sebagai akibat dari stimulus pembelajaran. Oleh karena itu, sangat penting bahwa penyebab hubungan antara stimulus dan respon didirikan dalam rangka untuk mengevaluasi efektivitas stimulus pembelajaran. Penting bagi pembuat pesan (dalam hal ini adalah guru atau dosen) untuk benar-benar mengerti respon apa yang diperlukan agar S-R dapat dibentuk. Respon harus dinilai dalam bentuk pantas atau tidak pantas dalam penjelasan, karena hal ini penting sebagai feedback bagi guru atau dosen yang mengajar.

Setelah respon dibuat dan dinilai, harus ada kelanjutan berupa reinforcement (pengulangan). Reinforcement bisa menjadi positif dan negatif. Skinner lebih percaya kepada “penguat negatif” (negative reinforcement), yang tidak sama dengan hukuman. Bedanya dengan hukuman adalah, bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang timbul berbeda dari yang diberikan sebelumnya, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi kuat. Misalnya seorang siswa perlu dihukum untuk suatu kesalahan yang dibuatnya, jika ia masih bandel maka hukuman harus ditambah. Tetapi bila siswa membuat kesalahan dan dilakukan pengurangan terhadap sesuatu yang mengenakkan baginya (bukan malah ditambah), maka pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, inilah yang disebut penguat negatif. Sedangkan untuk penguatan positif biasanya diberikan melalui pujian, tindakan (senyuman, dsb) dan hadiah.

Untuk bidang pendidikan kedua jenis reinfocement lebih sering digunakan penguatan positif yang berhubungan dengan pemberian hadiah bagi siswa yang berprestasi, sedangkan reinfoecement negatif sangat identik dengan pemberian hukuman bagi siswa yang melanggar aturan sekolah. Namun perlu diadakan penelitian lebih jauh untuk reinforcement negatif karena mengandung dua akibat, yaitu bisa berakibat terhentinya perilaku, bisa juga membuat perilaku diulangi namun dengan harapan menjadi lebih baik.

Apakah penguatan benar-benar “menguatkan” kepada murid dapat ditentukan melalui “trial and error”. Suatu hal yang benar-benar “menguatkan” bagi seseorang belum tentu cocok dengan orang lain. Penguatan yang diperlukan setiap orang berbeda.

Reinforcement dan feedback sering dianggap sama, meski sejatinya berbeda. Feedback biasanya termasuk informasi yang berhubungan dengan akurasi (ketepatan) respon dengan tujuan memandu murid untuk membuat jawaban yang benar (kulhavy, 1977; schimmel, 1988). Feedback (umpan balik) dapat instruktif tanpa harus meningkatkan respon yang diinginkan. Penguatan, disisi lain, dapat meningkatkan kemungkinan respon yang diinginkan tanpa hubungan yang diperlukan untuk respons substantif. Sebagai contoh, seorang karyawan yang suka merokok didalam ruangan, ketika melihat rekan kerjanya selalu keluar ruangan ketika ia mulai merokok tanpa alasan yang jelas, si karyawan lambat laun akan mengurangi intensitas merokoknya karena ada pengulangan berupa tindakan keluar ruangan yang dilakukan reka kerjanya (hal ini membuatnya merasa bersalah dan tidak nyaman), inilah reinforcement. Lain halnya bila si karyawan perokok “hanya” diberitahu akibat negatif dari merokok, respon yang diberikan tentu akan berbeda.

Meskipun asosiasi S-R adalah unit dasar dalam analisis perilaku
model, naum teori behavioristik seringkali dikritik karena sering tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak hal yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Sukses dalam belajar hampir selalu membutuhkan set kompleks dari peristiwa S-R. Tugas kompleks dan masalah pemecahan dijelaskan melalui teori kognitif. Prinsip behavior diterapkan pada pembelajaran berbasis komputer (computer based instruction) dan pembelajaran berbasis web (web based course).

2.2 Teori Belajar Kognitivistik
Teori ini lebih menekankan proses belajar daripada hasil belajar. Bagi penganut aliran kognitivistik belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, menyeluruh. Ibarat seseorang yang memainkan music, tidak hanya memahami not-not balok pada partitur sebagai informasi yang saling lepas dan berdiri sendiri, tapi sebagai suatu kesatuan yang secara utuh masuk ke dalam pikiran dan perasaannya.

Menurut psikologi kognitif, belajar dipandang sebagai usaha untuk mengerti sesuatu. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Para psikolog kognitif berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sangat menentukan keberhasilan informasi/pengetahuan yang baru.

Salah satu teori belajar kognitif adalah teori pemrosesan informasi (Information Processing) yang dikemukakan Gagne. Menurut teori ini, belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Sedangkan pengolahan otak manusia sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Receptor (alat-alat indera) menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsangan neural, memberikan simbol-simbol informasi yang diterimanya dan kemudian diteruskan kepada
b. Sensory Register (penampung kesan-kesan sensoris) yang terdapat pada syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan perceptual (persepsi selektif). Informasi-informasi yang masuk sebagian diteruskan ke memori jangka pendek, sebagian hilang dari system.
c. Short-term Memory (memori jangka pendek) menampung hasil pengolahan perceptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan lebih lama dan diolah untuk menentukan maknanya. Memori jangka pendek dikenal juga dengan memori kerja (working memory), kapasitasnya sangat terbatas, waktu penyimpanannya juga pendek. Informasi dalam memori ini dapat ditransformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang.
d. Long-term Memory (memori jangka panjang), menampung hasil pengolahan yang ada di memori jangka pendek. Informasi disimpan dalam jangka panjang dan bertahan lama, siap untuk dipakai bila diperlukan. Saat transformasi informasi, informasi-informasi baru terintegrasi dengan informasi-informasi lama yang sudah tersimpan. Pengeluaran kembali atas informasi-informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang adalah dengan pemanggilan. Ada dua cara pemanggilan, (1) informasi mengalir dari memori jangka panjang ke memori jangka pendek dan kemudian response generator, (2) informasi mengalir langsung dari memori jangka panjang ke response generator selama pemanggilan (respon otomatis).
e. Response Generator (pecipta respon), menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya menjadi reaksi jawaban.

Model pemrosesan informasi Gagne (Information Processing Theory) dapat dipahami dengan analogi sistem komputer. Si belajar harus menyaring stimulus yang datang dari lingkungan. Informasi ini diubah oleh indera menjadi informasi neural, kemudian muncul secara singkat pada sensory register. Respon manusia terhadap informasi yang berlimpah adalah dengan melakukan selective perception yaitu hanya sebagian kecil dari stimulus yang datang akan diberi perhatian. Teori pemrosesan informasi merumuskan perhatian sebagai konsistensi dari urutan umum tiap tahap, bebrapa diantaranya dibuat di bawah sadar, seperti masukan melalui indera, dan yang lain dengan kesadaran seperti perhatian yang selektif.
Proses persepsi & perhatian dipengaruhi oleh intensitas masukan dan harapan yang didasarkan oleh pengetahuan sebelumnya (prior knowledge). Orang cenderung memilih informasi berdasarkan karakteristik fisik (warna, gerak) juga sifat baru dan unik. Intensitas visual atau suaru memberikan isyarat, dorongan dan pengaturan bahan-bahan adalah beberapa faktor penyajian yang memudahkan perhatian. Belajar yang sukses membutuhkan pemenggalan dan pengaturan informasi menjadi bagian-bagian (subsets).
Organizations, membentuk informasi dengan sengaja menjadi bagian-bagian yang bermakna, memegang peranan penting dalam pengambilan informasi yang telah dipelajari secara efektif. Pengorganisasian juga membantu mengatasi keterbatasan memori dari short term memory.
Ahli kognitif memberikan kontribusi yang baru terhadap teori belajar & desain instruksional dengan menciptakan model bagaimana pemelajar menerima, mengolah, dan memanipulasi informasi. Ahli kognitif mencptakan model mental yang terdiri dari memori jangka pendek dan jangka panjang (short term & long term memory). Pemelajar menggabungkan informasi dan keterampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif atau keterampilan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang kompleks. Para siswa biasanya lebih percaya pada strategi kognitifnya dalam menggunakan sumber-sumber belajar yang tersedia.
Menurut Jean Piaget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan). Asimilasi adalah proses pengintegrasian informasi baru kestruktur kognitif yang sudah ada. Akomodasi adalah proses penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru.sedangkan equilibrasi adalah penyesuaian kesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Sebagai contoh, seorang siswa yang sudah mengetahui prinsip-prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian,maka terjadilah proses pengintrgrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dibenak siswa) dengan prinsip perkalian (sebagai informasi yang baru), inilah yang dimaksud dengan proses asimilasi. Jika siswa diberi soal perkalian, maka situasi ini disebuat akomodasi, dalam hal ini berarti penerapan prinsip perkalian dalam situasi yang baru dan spesifik.agar siswa dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, tetapi sekaligus menjadi stabilitas mental dalam dirinya,diperlukan proses penyeimbangan.proses inilah yang disebut equilibrasi.

Penyeimbangan antara dunia luar dan dunia dalam.tanpa proses ini perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tak teratur.seseorang dengan kemampuan eqilibrasi yang baik akan mampu menata berebagai informasi yang diterimanya dalam urutan yang baik, jernih dan logis. Sebaliknya, jika kemampuan equilibrasi seseorang rendah, ia cenr=drung menyimpan semua informasi yang da pada dirinya secara kurang teratur, sehingga ia tampil sebagai orang yang alur berfikirnya ruwet, tidak logis, berbelit-belit.

Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. dalam konteks ini terdapat empat tahap yaitu tahap sensorimotor (anak usia 1,5 – 2 tahun), tahap praoperasional (2-8 tahun), dan tahap operasional konkrit (7/8 tahun sampai 12/14 tahun) dan tahap operasional formal (14 tahun atau lebih). Proses belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap yang satu dengan tahap yang lainnya ,secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang maka semakin teratur dan juga semakin abstrak cara berfikirnya. Karena itu, guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya, serta memberikan isi ,metode,media pembelajaran yang sesuai dengan tahap-tahap tersebut.

Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajaran (instructional content) sebelumnya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advance organizers), dengan demikian akan memengaruhi pengaturan kemajuan belajar siswa. Advance organizer adalah konsep atau informasi umum yang mewadai semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Advance Organizer dapat memberikan tiga macam manfaat : 1. Menyiapkan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari, 2. Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yangs edang dipelajari dan yang akan dipelajari. 3. Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah. Untuk itu, pengetahuan guru terhadap isi pembelajaran harus sangat baik, dengan demikian ia akan mampu menemukan informasi yang sangat abstrak, umum dan inklusif yang mewadai apa yang akan diajarkan. Guru juga harus memiliki logika berfikir yang baik agar dapat memilah materi pembelajaran, merumuskannya dalam rumusan yang singkat dan mengurutkan materi tersebut dalam struktur yang logis dan mudah dipahami.

Menurut Bruner, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dsb) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya (TEORI FREE DISCOVERY LEARNING). Siswa dibimbing secara induktif untuk mengetahui kebenaran umum. Untuk memahami konsep “kedisiplinan” misalnya, untuk pertama kalinya siswa tidak harus menghafal definisi kata tersebut, tapi mempelajari contoh-contoh konkrit tentang prilaku yang menunjukkan kedisiplinan dan yang tidak.dari contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefinisikan kata disiplin.

Kebalikan dari belajar ini adalah belajar ekpositori (belajar dengan cara menjelaskan). Siswa diberikan suatu informasi umum dan diminta untuk mencari contoh-contoh khusus dan konkrit yang dapat menggambarkan makna dari informasi tersebut.proses belajar ini berjalan secara deduktif. Keuntungan “belajar menemukan” adalah :

a. Menimbulkan rasa ingin tahu siswa, dapat memotivasi untuk menemukan jawaban-jawaban.
b. Menimbulkan keterampilan memecahkan masalah secara mandiri dan mengharuskan siswa untuk menganalisa dan memanipulasi informasi.
Menurut teori kognitif, reinforcement sangat penting juga dalam belajar, meskipun alasan yang dikemukakan berbeda dengan psikologi behavioristik. Menurut psikologi behavioristik, reinforcement berfungsi sebagai penguat respon atau tingkah laku, sementara menurut psikologi kognitif berfungsi sebagai balikan (feedback), mengurangi keragu-raguan sehingga mengarah kepada pemahaman.

BAB III
KESIMPULAN

Desain pesan meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan atau informasi. Hal tersebut mencakup prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan daya serap yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan atau informasi, agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima. Fleming dan Levie (dalam Seel&Richie, 1994) membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau simbol yang memodifikasi perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.
Desain pesan berurusan dengan tingkat paling mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah. Terdapat teori-teori belajar yang mendasari penggunaan visual agar proses pembelajaran yang didalamya menggunakan desain pesain dapat berjalan lebih optimal, yaitu teori belajar behavioristik dan kognitivistik. Selain itu teori-teori ini sangat membantu pendesain pesan (guru, dosen, dsb) dalam membuat pesan.

DAFTAR PUSTAKA

http://benramt.wordpress.com/2010/01/25/prinsip-prinsip-persepsi-untuk-desain-pesan-pembelajaran/

http://unikharynizar.multiply.com/journal/item/8

Siregar, Eveline, dkk. Buku Teori Belajar Dan Pembelajaran. 2010. Jakarta: UNJ.

About these ads

6 thoughts on “Teori Belajar yang Mendasari Penggunaan Visual

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s