Masak Itu Capek!
This slideshow requires JavaScript.
Gara-gara mata kuliah metodologi penelitian (metlit) pendidikan, semester 5 ini jadi bolak-balik mengunjungi sekolah-sekolah, salah satunya ke sekolah adek saya, di SMKN 57 Jakarta. SMK ini letaknya tak jauh dari rumah saya, cukup sekali naik angkot saja. Nah, dari hasil observasi ke SMK ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: memasak itu capek
Iya, capek..
Mulai observasi pagi-pagi dan selesai bada zuhur. Peserta didik memasak sambil berdiri dan tidak ada waktu istirahat. Pantas saja yang lebih cepat selesai kebanyakan laki-laki, karena tenaganya lebih banyak. Resep yang dipilih dalam memasak adalah yang sedang in dalam bidang industri perhotelan. Buku yang dipakai sebagai rujukan yaitu “Professional Cooking” karya Wayne Gisslen.
Setelah selesai memasak, peserta didik tampak berkeringat dan berwajah lelah namun puas akan hasil masakannya. Jadi sekarang saya paham kenapa kalau adek saya pulang sekolah sehabis praktek memasak biasanya dia langsung rebahan. Memasak itu capek, jenderal!
Tapi kalau sudah terbiasa memasak dan resep yang digunakan sederhana, mungkin akan berbeda ceritanya
Botanical Garden
Disana, ketika orang banyak berolah raga, ia memilih jalan perlahan-lahan. Ke tempat sepi supaya bisa menyendiri. Meski tahu bahwa tak pernah ia benar-benar sendiri. Perihal apa yang membawanya kesana? Ternyata tentang kebaikan dan keburukan, yang telah ada sejak Nabi Adam. Ia lalu melewati jembatan kayu, yang tak pernah berubah sejak dahulu.
Melihat wujud dari kata-kata. Itu yang ia tunggu. Daun telinganya masih terbuka lebar untuk mendengar. Matanya masih digunakan untuk melihat. Namun hatinya terkunci sudah mulai menyeleksi.
4:21
Kali ini tentang rindu.
Rindu melihat bunga mawar menjadi biru.
Rindu melihat awan beratapkan kelambu.
Rindu.
Yang terlalu menggebu-gebu.
Tentang ketegaran yang disempurnakan.
Meski ringkih di lain kesempatan.
Wahai Tuhan yang mengatur seluruh alam,
Jagalah ia.. selalu.
Seperti ia menjagaku semenjak kecil.
Wahai Pemilik hari pembalasan..
Ringankanlah pundaknya,
dari beban dunia yang memenjara.
Inilah Islam
Di semester 5 ini saya mengambil mata kuliah Pendidikan Agama Islam 2 (PAI 2). Sebelumnya pada semester 1 sudah mengambil PAI 1. Nah, buku rujukan yang dipakai dalam belajar berjudul: “Inilah Islam(Falsafah dan Hikmah Ke Esaan Allah)”. Pengarangnya Prof. Nainggolan, dan buku ini adalah karya beliau. Alhamdulillah yah, jadi setiap kuliah kami membedah buku ini, berdiskusi lebih dalam tentang agama Islam. Utamanya mengenai tauhid.
Seperti dibangunkan dari lelapnya tidur yang panjang. Itulah yang saya rasakan selama berguru dan membaca karya beliau. Meski dari segi judul sudah beberapa buku yang memakai nama “Inilah Islam”, gaya khas pak dosen dalam menulis itu cukup blak-blakan. Jadi tak perlu heran. Memang lebih enak bertemu dan bertanya kepada penulisnya langsung ya kawan.. Bila tidak mengerti maksud dari suatu tulisan.
Sekian dulu ya, malam mulai menjelang
“wa ana minal muslimin…”
Foto diambil dari sini.


Recent Comments