Kalau sudah membaca Selimut Debu, kawan akan lebih nyambung membaca buku ini. Garis Batas berisi kisah perjalanan Agustinus Wibowo menjelajahi negeri-negeri di Asia Tengah yang terlupakan. Pernahkah mendengar kata Turkmenistan? Tajikistan? Dan negeri berakhiran “stan” lainnya? Mungkin pernah. Namun, sebenarnya ada apa dibalik negara-negara tersebut?
Garis Batas. Dengan adanya perbatasan, maka muncullah negara-negara. Muncul kebanggaan, arogansi, budaya, bahkan keimanan. Cukup lama saya merenungi isi buku ini. Sang penulis lebih terbuka untuk memberi tahu jati dirinya dibandingkan di buku yang pertama.
Meski banyak nama, serta istilah-istilah dalam buku ini yang terdengar asing di telinga, meski terbawa dengan atmosfer kesuraman saat membacanya, meski ada hal yang mengganjal terkait doktrin dan bagaimana suatu kepercayaan bisa tumbuh, secara tulus saya ingin mengucapkan terima kasih kepada sang penulis
Karya yang indah untuk merefleksikan diri.
Satu hal yang mudah, namun suka terlupakan dalam kehidupan manusia adalah bersyukur.
jadi pengen punya buku ini neh. salam kenal. sukses buat adila. ditunggu kunjungan dan komentar baliknya di http://jejakbersekolah.blogspot.com/2011/12/jejak-bersekolah-ituh.html
satu lagi informasi tentang buku bagus
makasih banyak ya….
Aiih … jadi ingin menjelajahnya. Resensi yang baik.
pinjeeeeeeeeeeeeemmmmmmmmmmm
kemarin sebenernya pengen beli ini, tapi mau beli Selimut Debu dulu sebelumnya