Umar Abdul Azis

Anakku Umar lahir pada 20 September 2015 pada pagi hari di bidan yang sama waktu melahirkan kakaknya, Najla. Alhamdulillah, persalinan berjalan secara normal. Pengalaman saat persalinan pertama membuatku lebih tenang dan prosesnya berjalan lebih cepat.

Umar lahir dengan berat badan 3,6 kg dan tinggi 51 cm. Padahal, seminggu sebelum persalinan bu dokter berkata bahwa bayiku kecil, sekitar 2,7kg ^^ Umar juga lahir seminggu lebih lama dari HPL (Hari Perkiraan Lahir). Diberi nama Umar Abdul Azis karena aku berharap ia menjadi pribadi yang tegas, serta bisa menjadi penduduk surga seperti namanya yang diambil dari nama sahabat Umar bin Khattab, salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Sama seperti kakaknya, Umar terlilit tali pusar. Tapi alhamdulillah aku “hanya” mendapat dua jahitan dari proses persalinan ini. Saat menerima gelombang cinta (baca: kontraksi), sempat kelelahan secara fisik dan mental… dan sempat terfikir untuk sesar! Alhamdulillah ada mama yang menguatkan. Jika mama anaknya enam dan semua persalinan dilalui secara normal, Insya Allah aku juga bisa melaluinya. Semoga rasa sakit yang ada bisa menjadi penggugur dosa.

Salam semangat untuk para ibu di seluruh dunia🙂🙂

 

Kehamilan Kedua, Tidak Direncanakan?

Alhamdulillah… Awal tahun 2015 diberi amanah lagi sama Allah. Aku hamil untuk yang kedua kalinya ^^ Kalau si calon dede lahir, beda umur dengan si kakak Najla kira-kira 18 bulan. Alhamdulillah ‘ala kulli hal…

Aku dan suami memang belum sepakat untuk KB. Jadi kami masih pakai sistem kalender. Tapi ternyata cara KB seperti ini bikin deg-deg an juga. Dan hasilnya.. Adeknya Najla akan launch insya Allah bulan september.

Kehamilan yang kedua ini tidak bisa kubilang kehamilan yang tidak direncanakan. Karena kalau kami mau, bisa saja langsung pasang spiral, dsb. Tapi kami pernah berpikir.. Anak baru satu, masa mau KB? Dan sederet kekhawatiran lainnya kalau pasang KB.

Najla dan calon adiknya memiliki jarak yang berdekatan. Sudah terbayang betapa lelahnya mengurus anak dengan jarak yang dekat. Setelah meminta nasehat disana sini, merenung… Akhirnya kuterima kehamilan ini dengan bersyukur. Karena disekitarku ada yang ingin hamil tapi belum juga. Mau anak jarak dekat jauh, pasti repot mengurusnya. Tinggal kita belajar sabar, ikhlas, belajar mengelola waktu dengan baik. Semoga calon dedek menjadi anak saleh/salihah. Aamiin..

Kalau sudah ada dua… Aku mungkin akan memberanikan diri untuk memberi jarak dengan KB. Karena lingkungan disekitarku kurang mendukung sepertinya untuk hal itu. Kehamilan keduaku saja “dikasihani” oleh tetangga, dsb😀 :p

Desember 2014

Tahun 2014 ini, beberapa momen indah yang alhamdulillah sudah kulalui:

– Mempunyai anak pertama

– Lulus kuliah dari UNJ

– Menjadi guru eskul english di SDIT, guru TPA, & guru bimbel😀

– Adikku sausan menikah, tambah keluarga baru. Dan kami ke Taman Safari bersama ^^

– Tempat kajian baru yang dekat dengan rumah. Di Bekasi banyak kajian sunnah

Momen yang kurang indah juga ada. Alhamdulillah ‘ala kulli hal…🙂

Di 2015 nanti, sudah ada  beberapa hal yang ingin kuraih. Salah satunya menempati tempat tinggal baru, biar lebih mandiri. Serta menjadi pribadi yang lebih baik, bermanfaat bagi agama, keluarga, dan masyarakat.

Ketika Adikku Menikah

Ketika adikku menikah, aku berharap ia tak mendapat orang yang salah.

Mudah-mudahan dapat membangun keluarga yang sakinah, mawadah warahmah.

 

Ketika adikku menikah, aku harap ia memiliki kesabaran seluas samudera.

Karena menikah itu indah, serta perlu perjuangan untuk berlapang dada.

 

Ketika adikku menikah, aku harap ia mendapat anak yang solih dan solihah.

Agar bisa menjadi penyejuk mata, juga investasi akhirat orang tua.

 

Ketika adikku menikah, aku harap ia menyederhanakan keinginannya pada dunia.

Agar tak terlalu silau dengan rumput tetangga.

 

Dan.. Ketika adikku menikah,

Kuharap ia akan bahagia. Mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali di surga.

(Untuk adikku Sausan. Dari Uni yang belum lama menikah)

Taman Kota Bekasi

 

kota bekasiBeberapa minggu yang lalu aku, suami dan anakku Najla bermain ke taman kota Bekasi. Sebelum bermain di taman, kami mengisi perut dengan makan bubur ayam di daerah sekitar taman. Aku sangat senang dengan keberadaan taman seperti itu. Ditengah banyaknya bangunan, masih ada yang hijau-hijau. Alhamdulillah…

Di taman kota Bekasi selain ada tanaman yang beraneka ragam, ada juga sekelompok burung yang sengaja dipelihara disana. Bagi pengguna Ind*sat tersedia wifi gratis. Tak lupa area bermain untuk anak seperti ayunan dan perosotan. Najla terlihat senang ketika bermain disana. Kalau anak sudah tertawa gembira rasanya hati jadi senang🙂

Taman ini terletak di alun-alun kota Bekasi. Taman sebagai paru-paru kota, mari kita jaga kelestariannya🙂

Bekasi

Saat melakukan proses taaruf dengan suami (saat itu statusnya masih calon suami), aku sempat bimbang. Suamiku orang Bekasi. Nanti kalau harus tinggal di Bekasi gimana? Yang ada di bayanganku adalah… Bekasi panaass! Karena banyak pabrik. Padahal saat itu baru beberapa kali ke Bekasi. Maaf ya yang orang Bekasi. Selain itu harus tinggal dulu bersama mertua. Oalah… apa jadinya?

Tapi konsekuensi jadi istri.. Yasudah aku ngikut suami.

Setelah menjalani kehidupan di Bekasi, ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Aku sudah bisa beradaptasi meski masih rindu Jakarta. Kangen sanak saudara. Bagaimana tidak… Keluarga besar dari mama dan papa ngumpul di Jakarta semua. Setelah hidup 20 tahun lebih disana, akhirnya pindah juga.

Suamiku, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.. Mampu membuatku bertahan. Terima kasih ya mas. Maafkan istrimu ini😀

Tinggal dengan mertua juga tidak selamanya buruk. Kebanyakan informasi yang ada adalah mertua dan mantu perempuan kurang akur. Justru dengan tinggal dengan mertua ada hal-hal yang bisa dipelajari. Entah itu pengalaman hidup mertua, ketrampilan mengurus rumah tangga. Tergantung mau mengambil sisi positif atau negatif dari kehidupan yang tengah kita jalani. Tapi tetap, menurutku baiknya kalau sudah berumah tangga ya pisah rumah. Kecuali mertua atau orang tua kita hidup sendiri atau sedang sakit.

Kalau merasa kesepian, biasanya aku bermain dengan anakku dan anak-anak tetangga. Atau menelepon mama. Semoga pengorbanan (berpisah jarak dengan keluarga) ini tidak sia-sia. Karena aku menginginkan surga, dan berharap dapat bertemu denganNya.