cerita dari singapura dan malaysia


in the bus

Air Asia: Now Everybody Can Be Late

Selain terkenal dengan slogan “Now Everybody Can Fly” (harga tiket air asia cukup miring dibanding harga tiket pesawat lain), Air Asia sepertinya bisa mengubah slogannya menjadi “Now Everybody Can Be Late” karena beberapa kali kudapati tidak tepat waktu. Terlebih, saat itu aku dan adikku yang mendapat kesempatan pergi ke Singapura harus balik lagi ke Jakarta padahal Singapura sudah dekat di depan mata. Katanya, ada gangguan teknis. Para penumpang bertepuk tangan atas hal ini. Aku dan para penumpang lain diturunkan dari pesawat dan menaiki bus untuk naik pesawat lain. Tidak jauh dari tempatku duduk ada ibu-ibu yang memiliki penyakit jantung. Ia sepertinya ketakutan sehingga jantungnya kumat. Air Asia, I’m sorry to say it. Kita semua belajar dari kesalahan ;)  Semoga tidak terjadi lagi ya.

changi airport

Anyway, Alhamdulillah sampai juga di Singapura. Kami tiba di Changi airport kira-kira jam sebelas malam. Airportnya bagus dan bersih. Bahasa yang digunakan negara ini ada tiga: Inggris, Mandarin, dan Melayu.

inside changi

recycle

Aku, tante dan adikku juga menyempatkan diri untuk mengisi perut. Aku dan hisyam makan mi. Tapi lupa namanya. Jangan lupa kawan, cari makanan yang halal. Karena disini bukan negara yang mayoritas penduduknya muslim.

mi

Di Little India

Kami juga butuh istirahat. Maka kami pergi ke broadway hotel yang terletak di little india. Dalam perjalanan ke hotel, kami naik taksi. Taksi di sana cukup lega. Tidak boleh mengendarai kendaraan terlalu cepat atau terlalu lambat. Singapura adalah negeri banyak aturan. Tapi masyarakatnya memiliki kesadaran dan disiplin tinggi. Jadilah ia negeri yang membuatku iri (dalam hal tertentu).

broadway hotel

Berada di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim, ternyata tidak gampang. Tidak juga sulit. Selain harus selektif dalam memilih makanan, kita juga harus tau arah kiblat untuk shalat. Makanya, jangan lupa bawa kompas. Beruntung tak jauh dari hotel ada masjid angullia. Orang India yang beragama Islam, brother and sister dari Yaman yang tinggal di Little India, orang melayu, dan muslim lain akan memenuhi masjid jika suara adzan memanggil. Pemandangan saat itu indah sekali…

masjid anguilla

depan broadway

Paginya, kami sarapan di restoran India. Hisyam makan roti khas India. Sedangkan aku memesan… nasi padang! ya, ada nasi padang di Singapura.  Kirain sama seperti masakan padang. Ternyata eh ternyata….

nasi padang india

hisyam makan roti

Merlion Park

hisyam@merlion park

papan petunjuk

Terkagum-kagum di Raffles

around raffles

ayo beli tiket

Yah, sebagai wong ndeso, kita memang sangat ndeso saat tiba di stasiun MRT. Membeli tiket tidak lagi lewat kenek, tapi dengan mesin. Sebelum ke merlion kita sempatkan diri ke Raffles. Disinilah aku mulai menyukai Singapura. Aku bertemu wanita tuna netra, dia adalah seorang seniman jalanan. Kasarnya, pengamen. Perlu izin juga untuk melakukan pekerjaan ini. Dia terlihat sangat mandiri. Bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Selain itu, ternyata disana sering dibagikan majalah atau koran gratis. Aku melihat sendiri saat koran atau majalah gratis itu hendak dibagikan. Orang-orang yang ingin mendapatkannya langsung membuat barisan! Otomatis tanpa berdesak-desakkan. Sangat teratur. Thats cool sob! Hm… ya, begitulah Singapura. Mau beli oleh-oleh kemahalan karena 1 dolar Singapur setara dengan 7.700 rupiah. Cukup sukses untuk membuat kanker (kantong kering), hehe…

Oke, sekarang kita ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Dari Singapura, kita naik bus ke Kuala Lumpur (KL). Enam jam dalam perjalanan. Enam jam merenung tentang sulitnya masuk UI. hehe…  ndak lah. Merenung tentang hal lain juga.

in the bus

sebuah papan

Ehm… I’m sorry to say it but when I arrived in stasiun puduraya, KL…. Ada sampah berserakan di beberapa sudut jalan. Jauh dari dugaan bahwa akan kinclong abis jalanannya. Yah, pasti setiap sudut jalan berbeda ya. Pasti di negara lain, termasuk Indonesia, juga ada.

Kami stay di China Town. Pilihan yang kurang baik memang, karena sulit mencari makanan halal. Beruntung restoran cepat saji, tidak lain ialah MC’D selalu setia menemani😀 Ada sertifikasi halalnya, begitu.

petaling street

Kami mencoba naik monorail, yangmana pembangunannya di Jakarta tertunda-tunda, hingga tak jadi sama sekali😦 Sayang sekali biaya pembangunan yang sudah dikeluarkan.

monorail

papan kenyataan :D

Menara Petronas

inside petronas

smile dikit napa sam,,

Penuh… sekali dengan turis asing yang ingin naik ke puncak petronas. Kami jadi enggan untuk mengantri. Di Malaysia terasa lebih ‘lega’ karena penduduk muslimnya lebih banyak daripada di Singapur. 1 Ringgit Malaysia setara dengan 3.300 rupiah. Cukup ‘terjangkau’ dibandingkan dengan dolar Singapur.

klinik pergigian. hhe

Langsung ke Penang aja ya…

Dari KL, kami naik bus ke Pulau Penang. It took six hours. Pegel juga sih. Tapi tak apalah sekalian menikmati pemandangan disana.

inside the bus

Pulau Penang pulau yang indah. Mantaplah pokoknya. Air dan udaranya bersih. Orang-orangnya kebanyakan dari etnis Cina dan Melayu. Sisanya turis dan WNA lain. Tapi sepertinya ada masalah disana. Ada beberapa rumah yang digusur. Di reruntuhan rumah itu tertulis: “Dimana hak melayu?” Hm… pulau penang memang banyak turis asingnya. Mungkin karena itulah, tanah orang melayu digusur untuk pembangunan apartemen, dll. Semoga masalah ini selesai dengan damai. Tidak seperti Jakarta, pulau penang yang merupakan bekas jajahan Inggris sangat menjaga bangunan bekas peninggalan kerajaan Inggris. Karena merupakan salah satu daya tarik bagi turis. Sayang sekali di Jakarta bangunan seperti itu malah digusur untuk membuat mall, dan gedung perkantoran lain.

miami green

Good place, but i cannot hear adzan near there😦

masjid kapitan keling

Gambar di atas adalah masjid kapitan keling. Masjid tertua di pulau penang.

foto245

 advent hospital

Kalau ini rumah sakit adventist. Di kristen adventist, kalau hari sabtu pasti libur. Mungkin penganut kristen science tidak mau kemari. Banyak orang Indonesia yang berobat disana.

mi maggy dan teh tarik

Kalau gambar diatas,,, nyam… enak beneran mi maggynya. Bisa dicari di rumah makan khaleel, Pulau Penang. Hm… sebenarnya masih banyak yang mau diceritakan. Tapi udah capek nih mijitin keyboard😛

makan...

Hanya, dalam hidup ini..

Aku tidak pernah berkeinginan ke Singapura. Pun ajakan dari tante yang mengajakku ke Singapura dan Malaysia kupikir hanya ajakan ‘kosong’ belaka. Tapi Allah berkehendak lain. Disana, aku mendapatkan banyak… banyak sekali pelajaran berharga. Pertanyaan mengapa negara Indonesia, yang sumber daya alamnya begitu melimpah, tidak bisa ‘mengeluarkan taringnya’ seperti Singapur. Mengapa kepedihan saat membaca buku sejarah tentang umat Islam yang mengalami kemunduran, terasa sekali saat aku bertemu ‘mereka’. Sakitnya hati saat melihat para TKI berwajah polos yang kutemui di bandar udara penang. Merekalah salah satu sumber devisa negara. Huft.. Hidup hanya sekali. Kita pasti bisa melakukan perubahan. Untuk masa depan yang lebih baik🙂

7 thoughts on “cerita dari singapura dan malaysia

  1. Oleh-olehnya apa nih?
    Brarti kaga sempat ikut pemilu ya? ^^;

    oleh-olehnya cerita ini aja ^^ yup, golput deh

  2. klinik pergigian? hehehe..nama-nama disana unik terdengar lucu kalo menurut bahasa indon

    mo skul disana bu?

    dan… sedikit aneh.

    maunya sih begitu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s