seandainya saya orang singapura


Ini adalah kisah nyata dari seorang kawan sealumni saya. Kami belakangan ini berinteraksi lewat komunitas milis dan ternyata sebagian dari mereka yang dulu saya kenal sebagai mahasiswa biasa-biasa saja, telah berubah menjadi orang-orang penting di bidangnya masing-masing. Bagi saya, informasi dari berbagai bidang yang mereka postingkan sangat menarik. Termasuk postingan yang berikut ini.

(Saya tidak usah menyebutkan namanya, karena dia belum tentu memberi izin untuk publikasi identitasnya).

Suatu pagi di Bandar Lampung, kisahnya, ia menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah senior, kisaran 60 tahun, tapi masih segar dan punya pikiran yang jernih. Sebut sajalah namanya Si Bapak.

Si Bapak adalah pengusaha asal Singapura. Logat bicaranya campuran Melayu Singapura dan English atau yang sering diplesetkan sebagai “Singlish” (Inggeris Singapura). Sebagaimana kebiasaan orang tua di hadapan anak muda, Si Bapak sangat senang bercerita panjang lebar tentang pengalaman-pengalaman hidupnya. Ia berbaik hati membagi ilmu dan pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan.

Sampai pada akhirnya, dia mulai berbicara tentang hal-hal yang mulai membosankan.
“Your country is so rich!” “

Ia menatap panorama sepanjang jalan. Ah, biasa sekali kan mendengar kata-kata pujian seperti itu? Tapi tunggu dulu, ia belum selesai.

“”Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia. Everything can be found here in Indonesia, you don’t need the world””, katanya berulang-ulang.

Mereka, orang-orang muda yang menjemputnya, tidak memberi respon yang antusias. Betapa tidak, kekayaan yang dia maksud itu tidak terbukti di sekelilingnya. Orang Indonesia jauh lebih miskin dari Singapura. Perekonomian dan mata uangnya sangat tergantung pada negara asing. Produk-produk andalannya diintervensi pasar global terlalu mudah. Pinjamannya terlalu besar dibanding anggaran nasionalnya.

Tapi Si Bapak tidak berhenti. Ia sepertinya menyadari pertanyaan besar di benak anak-anak muda yang kebingungan dan mulai bosan itu.

“Mudah saja, Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan dan Sumatera, dunia pasti kiamat. Nah, sekarang dunia yang butuh Indonesia kan? “Singapore is nothing, we can’t be rich without Indonesia,” ” katanya lagi.

Anak-anak muda yang hanya tahu bekerja keras itu mulai garuk-garuk kepala, padahal tidak gatal. Mereka menunggu lanjutannya.

“Lihatlah, 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami? Apartemen-apartemen dan kondominium terbaru kami, yang membeli pun orang-orang Indonesia. Nggak peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat”.

Angka-angka itu “sih, ” mereka sudah tahu. Anak-anak muda itu masih menunggu hal yang lebih dahsyat lagi dari mulut Si Bapak.

“Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya benar-benar panik. Sangat berasa, “we are nothing”. “
“Hmm…”dia sudah mulai buka hal-hal yang lebih dalam.

“Kalian tak tahu kan kalau Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk Singapura dan Malaysia. Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras. Lihatlah negara kalian, air bersih di mana-mana. Lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya pernah ke Kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat “glitter “kalau ada matahari bersinar. Petani di sana menjual Rp 3.000/kg ke sebuah pabrik di China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri”.

Mereka tersipu malu, saling menatap satu sama lain, dan terus menyimak.

“Kalian sadar tidak, kalau negara-negara lain selalu takut meng-embargo Indonesia? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak diembargo. Harusnya kalianlah yang meng-embargo diri kalian sendiri. Belilah dari petani-petani kalian sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik-pabrik kalian sendiri. Tak perlu kalian impor kalau bisa produksi sendiri. “You don’t need the world”. “

Mereka merasa dicampakkan ke bumi, lalu digodam oleh palu besar. Anak-anak muda yang bersemangat itu malu setengah mati. Mengapa harus seorang tua dari Singapura yang menyadari rahasia penting ini? Mengapa bukan orang-orang berkuasa dan penting di negeri ini? Dalam luapan emosi yang mulai meninggi, mereka masih mendengar Si Bapak sayup-sayup terus berbicara.

“Jika kalian bisa mandiri, bisa meng-embargo diri sendiri, Indonesia “will rules the world”!”

Saya berterimakasih pada teman yang memposting cerita ini. Kisah yang menyakitkan sekaligus menggugah. Seandainya kita semua melihat dan berpikir seperti orang Singapura. Okelah, negeri ini tidak perlu” rules the world, ” karena itu bukan sifat dasar kita. Tapi paling tidak, kita bisa menjadi negara yang sedikit dihormati, punya martabat dan kekuatan sadar untuk menjadi besar. Bukan eksportir TKI murah paling tragis di dunia hanya karena tak mampu menyuapkan nasi yang cukup ke mulut rakyatnya. Bukan negeri bahari yang justru kesulitan protein untuk anak-anaknya sendiri.

-xxx-

selengkapnya bisa liat disini kawan:

http://aryakuro.wordpress.com/2009/04/02/outsourced-seandainya-saya-orang-singapura/

hm…  terlepas dari kata “seandainya”

semoga bangsa ini bisa “merdeka” dalam arti yang sesungguhnya

Advertisements

One thought on “seandainya saya orang singapura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s