Belajar Untuk Mengajar


Sibuk sibuk sibuk… Tapi gak mau menelantarkan blog begitu aja. Karena kalau udah males ngeblog bawaannya jadi males ngeblog lagi, lagi dan lagi😛

Pulang kuliah (biasanya senin dan rabu) gak ada waktu untuk bernafas istirahat. Langsung ngajar kelas tiga atau empat SD. Capek sih tapi seneng ngeliat dan berinteraksi sama anak-anak yang masih kecil. Keliatannya mereka gak ada beban hidup gitu ^^ Walau kadang kesel juga sama anak-anak yang bandel dan iseng.

Selain melatih kesabaran, saya juga belajar memahami watak masing-masing anak. Secara tidak langsung juga mengetahui background keluarga mereka. Ada anak yang berperilaku kasar, bukan karena sifat alami dia anak yang kasar. Tetapi karena keluarganyalah yang “membentuknya” menjadi seperti itu. Kurang perhatian dari orang tua, membuat dia berbuat kasar untuk mencari perhatian temannya maupun gurunya.

Ada anak yang suka matematik, ada yang gak suka bahasa Inggris, ada yang pemalu, ada yang malas, wah… macam-macam lah😀

Sampai saat ini saya masih belajar untuk mengajar dari mereka. Adik-adik kecilku yang mewarnai perjalanan hidupku (heu.. bahasanya). Moga bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Oh iya… sedikit sisipan…

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah

Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan

Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

(Dorothy Law Nolte)

 

3 thoughts on “Belajar Untuk Mengajar

  1. Betul banget dhe… ‘terlahir dari situasi’ begitulah kiranya tingkah anak2 terbentuk. Mereka tak salah, dan tak pernah salah. Hanya saja, situasi mengajarkannya demikian. Mereka tak pernah tau bagaimana cara memukul kalau mereka tidak pernah melihatnya terlebih dahulu. Mereka juga tak faham seperti apa makian itu kalau mereka tak pernah di maki.

    Well… Actually kids are always droll my days and nights.. They’re soooo…. innocent! ^^

    saking innocentnya bisa bikin rileks kalau deket mereka😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s