Seminar Budaya Minangkabau


Kemarin saya mengikuti seminar mengenai budaya minangkabau yang diselenggarakan oleh KMM (Kumpulan Mahasiswa Minangkabau) UNJ. Sepertinya acara tersebut kurang dipublikasikan, saya aja baru tahu ada seminar itu kemarin, dan acaranya juga dilaksanakan kemarin. Jadinya harus memilih antara mengajar adik-adik untuk les atau mengikuti seminar.

Akhirnya terpilihlah juga si seminar. Karena jarang-jarang ada acara seperti ini. Ternyata acara ini dikhususkan untuk anak-anak rantau yang mencari ilmu di Jakarta, agar tetap mempertahankan keminangannya. Tapi bukan berarti orang lain (non-minang) tidak boleh ikut. Bahasa yang digunakan saat seminar adalah baso (bahasa) minang. Saya yang minang abal-abalan hanya bisa tersenyum saat orang lain sedang tertawa karena memang saya belum mengerti bahasa minang. Sedikit sekali perkataan yang saya mengerti, seperti: disiko (disini), nak (ingin/mau), pitih (uang), cie, duo, tigo, ampe, dll. Wah… amatiran banget ya?😀

Papa saya lahir di Solok namun besar di Jakarta. Menghabiskan masa kecilnya di Jakarta. Lalu menikah dengan mama yang asli orang Jakarta (Betawi asli). Yasudah.. Jadilah bahasa minang merupakan bahasa yang terdengar asing ditelinga.

For Your Information, orang Sumatra Barat lebih suka dibilang “orang minang” daripada “orang Padang”. Kenapa? Karena tidak semua orang minang berasal dari Padang. Ada yang berasal dari Solok, Bukittinggi, dsb. Etnis minang menganut falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK).

Hal lain yang saya dapat adalah bahwa terdapat banyak suku di minang. Papa berasal dari suku Chaniago, diacara itu terdapat berbagai macam suku. Lalu, ternyata orang dari satu suku tidak boleh menikah dengan sesama suku. Kalau toh hal ini tetap dilakukan, boleh saja… tapi dia tetap menanggung konsekuensinya. Seperti pengendara motor yang tetap menerobos maju walaupun lampu lalu lintas sudah berwarna merah, dia akan menerima akibat perbuatannya seperti diklakson (diberi peringatan) oleh pengendara lain atau hal tidak menyenangkan lainnya.

Sebenarnya, tidak hanya budaya minang, budaya lain juga mengalami tantangan berat akibat pengaruh globalisasi.

“Masuak kakandang kambiang mambebek, namun bapantang awak jadi kambiang”

Hm… Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melestarikan kebudayaan versi angku yus datuk parpatiah (salah satu pembicara dalam seminar) :

*dalam rangka meminangkan anak-anak, kiranya dirumah tangga diciptakan suasana bernuansa minang. umpamanya, dalam hari-hari tertentu diwajibkan keluarga berbahasa minang, makan bersama dengan lauk pauk dan ragam masakan urang awak sambil duduk berselo

* ada baiknya mengajak keluarga pulang basamo ke kampung halaman, guna melihat ranah minang dari dekat. Insya Allah, setelah mengenal akan timbul rasa cinta kepada tanah leluhurnya.

*menyajikan buku-buku dan literatur tentang minangkabau

*seyogianyalah kalau setiap IKM diperantauan seperti di Jakarta menghimpun para remaja minang dalam sebuah organisasi paguyuban

*libatkan anak-anak muda dalam setiap perbincangan tentang kampung halaman, diskusi adat atau mendatangkan dari datuk-datuk. selain memancing keingintahuan mereka, juga upaya mendalami falsafah ABSSBK.

8 thoughts on “Seminar Budaya Minangkabau

  1. Salam kenal, Dida.
    terima kasih sudah berkunjung ke blog bunda.
    Bundapun orang Minang, kedua ortu asli dr Pariaman, walaupun akhirnya mereka merantau ke Jakarta sampai sekarang sudah beranak cucu, kurang lebih 5othn sudah di Jakarta, namun kami anak2nya yg lahir di Jakarta alhamdulillah bisa berbahasa Minang.
    Kita semua, anak cucu bisa berbahasa Minang dan kami bangga menggunakannya.
    Bunda sangat setuju dgn tips2 yg disarankan oleh pembicara seminar, agar timbul rasa cinta dan bangga akan asal usul kita.
    salam.

    setuju sama bunda🙂

  2. Hai! Saya baru tahu bahwa Chaniago itu nama suku. Saya sangka Chaniago itu nama marga lho.

    Kalau orang-orang dari Sumatera Barat tidak suka disebut orang Minang, berarti mestinya jangan ada rumah makan Padang dong, tapi lebih tepat namanya rumah makan Minang?

    hai! makasih kunjungannya. ya… tidak semuanya begitu sih mbak. ada yang fine2 aja dipanggil orang padang walaupun sebenarnya bukan dari padang (ex: maninjau, dsb)

  3. Hoo, ada juga yah acara kayak gini. Musti dipertahankan neh biar budaya indonesia tidak akan lekang oleh zaman, di saat orang berbondong2 berkiblat ke budaya barat, apa sih salahnya kembali ke tanah air kita, budaya lokal kita sendiri yang sebenarnya sudah sangat pas dengan kehidupan kita … ^^

    setuju😀

  4. Assalamu’alaikum dida🙂
    Saya memang bukan orang Minang. Tapi setelah membaca artikel yg ini saya merasa salut pada penyelenggara acara di atas. Budaya Minang masyhur ke seluruh Indonesia. Org Minang banyak merantau ke segala penjuru. Kalau ingin makan masakan khas minang banyak dijual dimana-mana. Sayang sekali jika bahasa dan budaya Minang tidak dilestarikan. Saya sendiri sangat tertarik dgn bahasa Minang pengen tau dan belajar lah sikit2.

    waalaykumsalam Ummu🙂
    wah, syukurlah orang non minang pun tertarik untuk mempelajari baso minang ^^

  5. makasih ulasannya, Dida…
    saya termasuk orang yang nge-fans (entahlah istilah lainnya, yang pasti saya suka orang minang–lebih2 karena buya hamka dan buya natsir),,
    semoga saja ada jalan bagi saya mengenal dan melihat lebih banyak lagi tentang minang, dan orang-orangnya…🙂

    waahhh seneng deh baca komennya😀 makasih ya mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s