Jakarta, dulu dan nanti


Sudah hampir 20 tahun tinggal di Jakarta. Wah, ternyata lama juga ya! Sebenarnya saya tidak terlalu peduli dengan kota besar dimana saya tinggal, sampai suatu ketika saya diberi kesempatan mengunjungi negara tetangga. Dari sinilah cara pandang saya sedikit berubah. Saya mulai sedikit peduli dengan Jakarta. Saat itu sebelum pergi ke pulau lain, yang ada di benak saya, Jakarta=Indonesia. Gimana nggak? Kalau nonton TV seringanya berita di sekitar Jakarta (karena pusat pemerintahan disini). Daerah lain seperti adem ayem saja.

Jakarta Semakin Berumur

Sebentar lagi Jakarta ulang tahun. Saya harap hari ulang tahun ini bukan sekedar diperingati dengan konser musik (yang artisnya berpakaian aduhai), dsb. Lebih baik acara bersih-bersih kali, tanem pohon, yah… lomba menghijaukan Jakarta. Seperti itu.

Jakarta Itu Keras

Banyak orang bilang begitu. Saya setuju. Beribu orang dari seluruh Indonesia merantau dan mengadu nasib disini. Tak pelak persaingan kerja maupun usaha terjadi. Bagi yang “kuat”, dia akan survive. Sepertinya hukum alam masih berlaku ya.

Jakarta Itu Macet

Ini merupakan suatu penyakit akut yang entah kapan bisa disembuhkan. Aturan hukum di negeriku tercinta memang terlihat seperti sebatas wacana. Yang memiliki uang, dia yang menang (hiks..). Beberapa tahun kedepan, entah masih bisa berjalankah motor dan mobil di jalan raya. Saking bebasnya motor-motor dari Jepang itu memadati jalan. Padahal orang Jepang sendiri banyak yang menggunakan sepeda jika bepergian. Macet bisa menimbulkan stress. Jangan-jangan orang Jakarta nanti akan stress semua? Termasuk saya? Tidakk….!

Jakarta Itu Banjir

Air berwarna cokelat memadati Jakarta jika musim hujan. Sedih saya dibuatnya. Sampah menggenang. Air membasahi buku pelajaran. Dan, masih ada saja orang yang buang sampah sembarangan. Dan, masih saja saya takut menegurnya, terutama jika yang buang sampah sembarangan berumur lebih tua.

Jakarta Banyak Copet

Penduduknya banyak, dan belum tentu semua memiliki pekerjaan tetap. Jadilah copet dan preman bertebaran. Wajarkah? Entah..

Tapi, Jakarta…

Sebenarnya saya berharap bisa tinggal di ranah minang atau disuatu tempat yang damai. Yang airnya jernih, udaranya bersih, tidak banjir dan tidak macet. Tapi, yah.. segala sesuatu ada kelebihan dan kekurangan, termasuk Jakarta. Jakarta boleh menyebalkan, tapi di satu sisi dia bisa menyenangkan, bahkan mendatangkan kebaikan. Banyak yang bilang Jakarta begini, begitu. Cemoohlah Jakarta. Tapi jangan lupa “berterima kasih” ya..😛

4 thoughts on “Jakarta, dulu dan nanti

  1. hm…bener banget…

    mudah”an jakarta berubah menjadi lebih baik dan lebih tertata…

    maksih infonya…

    salam hangat,,,

    terima kasih atas komentarnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s