Menghibur Diri Sampai Mati


“..berita itu akan segera diikuti oleh rentetan iklan yang dalam sekejap akan melelehkan semua makna berita tersebut sampai membuatnya kelihatan dangkal

Suatu pagi di Pejompongan, Jakarta Pusat, saya pergi ke rumah seorang teman. Tiba disana saya menunggu di ruang tamu. Rasanya… ada yang berbeda. Suasana disana begitu hening, terasa damai dan menenangkan. Ada apa gerangan? Apa yang membedakan?

Keesokan paginya, dirumah saya, ketemulah jawabannya. Teman saya tidak menghidupkan televisi di pagi hari. Tidak ada suara iklan yang berganti setiap 20 detik, tidak ada suara pembawa acara berita, tidak ada perdebatan, kritikan yang berusaha menilai mana pemerintahan yang baik maupun yang buruk. Serta, tidak ada suara ketawanya sponge bob square pants.

Kebetulan, ketika saya sedang kecewa dengan televisi (karena terlalu banyak informasi yang diberikan, dsb), saya teringat kalau di rak buku ada buku kuliah milik kakak saya yang berjudul “Menghibur Diri Sampai Mati (Mewaspadai Media Televisi)” yang ditulis oleh Neil Postman, seorang Amerika. Saya baca, dan.. buku ini cukup menguras tenaga🙂

Karena ini buku terjemahan, “agak sulit” dalam membacanya. Tidak seperti membaca majalah, saya harus fokus ketika membaca buku ini. Melelahkan memang. Namun buku ini “brutal”. Menyampaikan sesuatu yang tidak saya ketahui sebelumnya.

Berikut kutipan yang ada di dalam buku:

Teknologi tidaklah netral, tapi dilengkapi dengan program transformasi budaya yang tidak kita sadari sampai akhirnya terlambat

Hanya mereka yang tak tahu sejarah teknologi yang meyakini bahwa teknologi adalah sama sekali netral

Wah… Padahal di bangku kuliah, yang saya pelajari dan hafalkan: teknologi itu netral.

“…alasan mengapa televisi ini dapat menduduki tempat utama dalam kurikulum adalah karena sifat menghiburnya

Juga ada anggapan bahwa meskipun program televisi itu bertema pendidikan (dalam hal ini acara Sesame Street), acara tersebut tidak membuat seorang anak untuk belajar, tapi lebih membuat si anak menyukai menonton tv. Karena pada dasarnya televisi adalah untuk menghibur.

Masyarakat yang berbudaya televisi memerlukan ‘bahasa yang mudah’ baik secara visual maupun aural (berdasarkan pendengaran), dan mungkin akan mengharuskannya secara hukum untuk situasi tertentu

Sering mendengar iklan yang mengumbar-umbar “kemudahan” dan “gak repot” jika kita memakai produknya? Itulah salah satu faktor, yang mungkin tanpa kita sadari, membuat kita menyukai sesuatu yang gak bikin repot. Semua serba simple. Iklan ini terus diulang-ulang hingga alam bawah sadar kita mengatakan “ya” sebagai respon terhadap iklan tersebut. Atau, pernahkah melihat iklan produk yang berkata: “mumpung kita masih muda, santai saja…

Namun sebagian besar berita yang kita baca bersifat tidak aktif, hanya menjadi informasi yang kita bicarakan namun tak dapat membantu mengarahkan pada suatu tindakan yang berarti

Jadi, kita mendapatkan satu lingkaran impotensi besar: Berita menarik berbagai opini dari Anda, dan Anda tak akan dapat melakukan tindakan apapun mengenai itu semua, kecuali untuk memberi lebih banyak lagi berita pada mereka, dimana Anda tak dapat pula mengambil tindakan apa-apa mengenai berita tersebut

Yah.. Saya juga udah sedih sih kalau melihat televisi, acara lomba bakat anak biasanya hanya untuk menyanyi dan menari. Dan anak-anak itu terlihat sangat dewasa dibandingkan umur sebenarnya, menyanyikan lagu dewasa, dan menari layaknya orang dewasa.

Dari satu berita ke berita lain, dalam waktu cepat. Pernah saya menghitung jumlah iklan saat menonton tv, total ada 13 iklan. Sebenarnya saya mau menonton film atau iklan sih? Juga bintang iklan produk minuman yang minum pakai tangan kiri, memakai baju minim. Iklan mobil yang lebih menjual modelnya daripada mobilnya (kelihatannya begitu). Semoga saya tidak termasuk “generasi televisi masa kini”😦

Meski ditulis oleh seorang humanis, saya hanya ingin mengetahui pandangan seorang Neil Postman terhadap televisi. Dan mengambil pelajaran dari tulisan itu.

Imam Ahmad berwasiat kepada putranya, “Aku telah menginfakkan diriku untuk perjuangan”. Ketika Imam Ahmad ditanya kapan seseorang dapat beristirahat? Maka beliau menjawab, “Ketika pertama kali menginjakkan kakinya di surga.”

3 thoughts on “Menghibur Diri Sampai Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s