Makan Siang


Detak jantung makin tak teratur. Siapa mereka? Kenapa skenarionya menjadi seperti ini? Tapi toh kuikuti juga arusnya. Kami masuk ke lift yang tidak memiliki tombol bernomor 13. Kue manis sudah dibawa. Tidak enak pergi bertamu tanpa membawa sesuatu.

Yang membuatku tertarik adalah, wanita berbaju tanpa lengan itu memakai kalung bertuliskan huruf arab. “Oh.. This one?” seperti menyadari lirikanku, dia memegang kalung sambil menjelaskan “Ayat Kursi. You know that?”. Lidahku masih kaku. Aku tersenyum sambil mengangguk. Ketegangan mulai mengendur.

Seakan mati gaya, aku diberi usul untuk membantu wanita itu. Sebenarnya ragu. Kudekati dia, “Excuse me mam, do you need a help?”. Aha. Keluar juga itu kata-kata. Dia memintaku untuk menuangkan air ke dalam gelas.

Makan siangpun dimulai. Semua yang dimeja terlihat sehat, entah lidahku suka atau tidak. Kuambil kari telur sedikit saja, nasi, dan sayur tanpa nama. Lalu mereka membicarakan tentang Obama dan dunia. Aku terdiam. Cukup menjadi pendengar yang baik.

Lamat-lamat kudengar suara adzan memanggil. Sudah beberapa hari ini aku tidak mendengarnya. Akankah wanita itu mengajak untuk shalat? Semoga.

 

3 thoughts on “Makan Siang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s