Pulau


“Dulu, pulau itu masih perawan” jelasnya.

“Sekarang, pembangunan dimana-mana” tambahnya.

“Hmm….” jawabku.

“Begitu cepat, bahkan ketika aku sedang menikmati masa pensiun, mereka masih mengganggu dengan suara mesin!”  keluhnya.

“Mau dibuat apa, memang?” tanyaku.

“Apartemen. Apalagi?”

Belum sempat aku menimpali,

“Lihat, pepohonan ditebang, tanah dikeruk…” katanya beringsut.

Kali ini, seperti biasa, aku memilih diam. Kutatap awan, dia masih indah. Kudengar ombak, dia masih ceria. Kuhirup udara, masih tetap segar. Angin pun membelai wajah dengan anggunnya.

“ Masih ada waktu..” pikirku.

3 thoughts on “Pulau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s