Langit yang Berbeda


Saat kubuka mata, terkejut aku melihat suasana kamar yang ada. Ah.. ya.. Aku sedang berada di negeri banyak aturan. Badanku seakan memiliki alaram. Meskipun suara azan tak terdengar tetap saja seperti ada yang membangunkan. Berjalan aku ke kamar mandi. Sebelumnya kutatap jendela, diluar sepi. Sehabis wudhu aku mencari arah kiblat, lalu shalat. Kemudian mulai beres-beres kamar.

Pagi yang segar. Aku, tante dan adikku makan di restoran India. Disampingku ada segerombolan biksu. Kutatap meja, ada gambar rokok yang disilang dan bertuliskan “by law“. Dan memang tidak ada yang merokok. Benar-benar segar.

Mataku dimanjakan dengan lingkungan yang bersih. Kucari sampah tapi sulit sekali. Mereka sembunyi merasa rendah diri. Terbesit rasa iri mengapa hal ini tak terjadi di negeri sendiri.

Perjalanan dilanjutkan. Kami menuju warnet. Aku mau melihat hasil pengumuman masuk ke perguruan tinggi negeri. Warnetnya sepi tapi kecepatan internet sangat memuaskan. Deg-degan sekali rasanya saat memijiti tombol keyborad. Facebook dan Yahoo Messenger juga kubuka. Saat itu twitter belum terkenal seperti sekarang.

Lemas sekali saat memandang layar monitor. Aku sendiri tidak yakin. Tiba-tiba seorang teman menyapa lewat chattingan.

“Gimana?” tanya dia.

“Yah.. belum berhasil” aku mengetik dengan malas.

“Sabar ya.. Masih ada kesempatan”

“Oke. Makasih ya..”

“Gimana disana?” tanyanya lagi.

“Beda sekali. Rasanya aku bisa melakukan apa saja disini”

“Hm.. Atmosfernya menantang ya?”

“Bisa dibilang begitu :)”

Percakapan di dunia maya berakhir setelah berlangsung kira-kira satu jam. Kakiku berjalan ke arah stasiun MRT, hendak pulang. Di tembok stasiun kulihat selebaran kertas yang isinya mengenai berita kehilangan. Seorang perempuan berjilbab dinyatakan hilang dan bagi yang menemukan harap hubungi nomor sekian dan sekian. Tiba-tiba seorang wanita berkata, “pasti berhubungan dengan teroris”. Dia, yang tak kusadari kehadirannya langsung berjalan pergi setelah berkomentar. “Huh, kau terlalu cepat menyimpulkan!” keluhku dalam hati.

Di negeriku banyak orang yang ringan senyuman. Inilah yang agak sulit kujumpai disini. Orang-orang berjalan lebih cepat. Seakan detik amat berharga, tidak ada waktu untuk saling sapa.

Termenung aku di Raffles, sambil menikmati udara. Kutengok ke atas, langitnya berbeda. Entah apa yang beda tapi terasa begitu berbeda.

3 thoughts on “Langit yang Berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s