Membentuk Sikap Ilmiah


Waktu saya SMA kelas dua, ada mata pelajaran sains yang ketika mempelajarinya, kami (murid-murid) merasa sedang diceritakan sebuah dongeng. Sebut saja pelajaran itu bernama fisika. Maaf ya bapak dan ibu guru kalau tiba-tiba baca tulisan ini.. Tapi sebenarnya belajar sains itu menyenangkan, sayanya saja yang mungkin kurang berusaha *menyesal*. Jadinya sekarang milih jurusan sosial deh.

Menyinggung masalah sains, di buku “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan” karya Prof. Yusuf ada beberapa hal dalam kaitannya untuk membentuk sikap ilmiah, antara lain:

1. Sikap ilmiah harus sudah mulai ditanamkan sejak awal sekolah. Kalau Sejak awal siswa sudah terbiasa “disuapi” dengan produk sains, maka sampai perguruan tinggi pun akan lebih merasa senang apabila terus disuapi. Tugas dosen pertama-tama harus meniadakan sikap yang tidak kondusif ini, kalau perlu dengan paksaan.

2. Penilaian atas belajar perlu lebih memerhatikan pada kegiatan yang dilakukan daripada hasil yang dicapai. Kegagalan siswa dalam melakukan suatu percobaan sains jangan lalu diartikan bahwa siswa tidak berhasil dalam belajarnya. Justru kegagalan merupakan bukti keberhasilan, yaitu bahwa kegagalan itu menunjukkan bukan merupakan suatu prosedur yang benar, dan informasi tentang kegagalan ini akan merupakan tambahan informasi ilmiah.

3. Adanya perbedaan kemampuan dan minat diantara para siswa, sehingga tidak tepat bila pendidikan diregimentasikan dengan derap langkah yang seragam mengikuti suatu komando. Guru harus mampu dan diberi peluang serta kemungkinan untuk mengelola tugas belajar yang berbeda.

4. Tersedianya sarana dan anggaran yang cukup untuk terlaksananya berbagai metode ilmiah. Penerapan berbagai metode ini akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi tumbuh dan berkembangnya sikap ilmiah.

5. Perkembangan “body of knowledge” yang begitu pesat dan banyak, maka tidak mungkin seseorang menguasainya. Oleh karena itu tujuan belajar seharusnya diarahkan pada kemampuan belajar untuk belajar (learning to¬† learn).

2 thoughts on “Membentuk Sikap Ilmiah

  1. bagus. tapi tidak ada sikap ilmiah dalam proses pembelajaran, karena pembelajaran adalah keterampilan dan jauh dari penilaian dengan data yang ajeg, valid. dan keterampilan pun sesuatu yang tidak konstan beda dengan ilmiah itu sendiri yang bersifat ajeg.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s