Kartini dan Ibu Siti Fadilah Supari


“Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan seorang ibu”  (Dr. dr. Siti Fadilah Supari)

Kemarin saya menghadiri seminar kartini “Optimalisasi Peran Perempuan Indonesia dalam Pendidikan Sebagai Kartini Masa Kini”, bertempat di gedung Rabbani, Rawamangun, Jakarta Timur. Seperti ada energi baru yang disalurkan oleh narasumber utama, yaitu ibu Dr. dr. Siti Fadilah Supari (Mantan Menkes RI). Acara itu juga dihadiri oleh Nasrullah Nasution (Ketua Paham, kalau mau bertanya banyak tentang HAM bisa tanya beliau).

Apa yang saya dapat dari bu siti mengenai sosok seorang kartini yaitu bahwa sebenarnya emansipasi yang diperjuangkan kartini adalah dalam hal kemerdekaan dan kesetaraan antar bangsa. Dalam konteks ini adalah terbebas dari penjajahan Belanda. Namun yang mencuat di permukaan mengenai kartini pada saat ini adalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Pihak-pihak tertentu yang membuat makna emansipasi menjadi memiliki beragam makna. Sayangnya saya lupa bertanya, darimana bu Siti mendapat sumber rujukan. Kalau saya lihat di beberapa situs internet, banyak versi mengenai pengarang buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” ini.

Sosok bu Siti yang dengan tegas melawan ketidakadilan di kancah internasional juga sangat menginspirasi. Awalnya saya sedikit tertarik dengan bu Siti setelah membaca buku “Deadly Mist” karya Jerry D. Gray. Mantan menteri kesehatan ini juga bercerita mengenai perjalanan hidupnya. Gaya bicaranya yang tegas membuat saya tidak merasa ngantuk. Tentang bagaimana beliau diancam dibunuh, bukunya yang dilarang beredar, virus hasil penelitiannya yang hilang, saudara perempuannya yang semua berjilbab namun hanya beliau yang tidak, hingga berita internasional yang banyak memberitakan beliau namun di Indonesia sendiri berita itu seperti dibungkam.

Bu Siti juga memberi pesan untuk tidak sekedar mengajar, namun mendidik generasi penerus. Karena mengajar dan mendidik jelas berbeda. Yang juga menarik adalah statement bu Siti bahwa “Allah menurunkan Islam untuk semesta alam, bukan hanya untuk kelompok”. Wallahu alam bishawab.

One thought on “Kartini dan Ibu Siti Fadilah Supari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s