Dari Tisu Hingga ke Buku


Dalam perjalanan mengais ilmu ke ar rahman, saya mampir ke sebuah warung untuk membeli tisu karena hidung sedang tersumbat. Setelah membayar, terkejut juga melihat merek tisunya, yaitu “Raisa”. Nama gadis cilik yang pernah menjadi korban kasus penculikan. Dimana saya mengenal para pelaku penculikan tersebut, yang tak lain adalah teman-teman SMA dan guru ngaji yang tergabung dalam wadah bernama Rohis.

Kalau ingat kejadian itu, saya jadi teringat sebuah buku berjudul “Kembalikan Anakku! (Belajar dari Kasus Penculikan Raisah Ali)” karya pak Hermawan Aksan. Buku itu sempat membuat ragu ketika ingin membelinya, karena hanya akan mengingatkan masa lalu yang kurang sedap. Tapi, yang namanya masa lalu memang tidak bisa benar-benar dilupakan, kan? Orang bilang, yang lalu biarlah berlalu, songsonglah masa depan penuh semangat (haha.. bahasanya). Kalau menurut saya, masa lalu agak sulit dilupakan. Yah, itung-itung belajar dari masa lalu. Toh bumi terus berputar (gak nyambung ya?).

Kembali ke buku tersebut, disana secara khusus menggambarkan peristiwa penculikan Raisah Ali. Kronologis kasus, wawancara eksklusif dengan orangtua Raisah Ali, sampai tips-tips mencegah penculikan anak.

Beruntungnya ada orang yang demikian peduli dengan keselamatan anak, hingga buku ini bisa lahir. Secara khusus saya sampaikan terima kasih kepada penulis🙂

Hanya saja, kalau boleh sedikit membuka lembaran masa lalu, ingin rasanya memberi komentar. Pada halaman 66 mengenai Puisi Bingkai Kehidupan, sebenarnya itu adalah sebuah nasyid dari grup Shoutul Harakah. Di salah satu media cetak saat kejadian ini sedang panas-panasnya juga tertulis bahwa para penculik itu terinspirasi dari sebuah puisi. Padahal, sekali lagi, bukan puisi.

Hm.. apalagi ya?

Oh ya, insya Allah rohis di SMAN 35 saat kejadian itu berlangsung bukanlah rohis yang sesat, yang terkait dengan kelompok Islam tertentu (NII). Sampai saat ini saya masih merindukan buku tulis saat mengaji di rohis, yang diambil (padahal katanya mau dikembalikan =.= ) sebagai bukti bahwa apa yang diajarkan bukanlah kesesatan.

Saya dan Teman-teman, Kala itu..

Tak pelak lagi, saya dan teman-teman rohis (yang perempuan) kala itu mengalami mata bengkak selama beberapa hari. Saya dan teman juga sempat terusir dari kelas karena mempertahankan argumen ketika “diinterogasi” seorang guru. Saya bahkan sempat bertemu Raisah di masjid SMA 35😀 , tapi kala itu saya tidak tahu siapa dia. Kok sendirian aja didalam masjid? Keganjilan demi keganjilan yang ada akhirnya memuncak, hingga peristiwa itu terjadi.

Pelajaran

Satu hal bahwa, setiap manusia pasti berubah. Entah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Jadi teringat kisah Nabi Adam..

“So he made them fall, through deception. And when they tasted of the tree, their private parts became apparent to them, and they began to fasten together over themselves from the leaves of Paradise. And their Lord called to them, “Did I not forbid you from that tree and tell you that Satan is to you a clear enemy?” Al A’raf:22

@kamar. sebuah tulisan untuk mengingatkan diri sendiri

8 thoughts on “Dari Tisu Hingga ke Buku

  1. Ah, dida…
    Bahkan nama anaknya aja aku udah lupa kalo ngga dida masukin di dalem blog ini..
    Memori itu hampir masuk ke dalem kotak pandora yang kuncinya entah ke mana..
    Ealah, ternyata kuncinya dida yang pegang.. TwT

    ^^

  2. seoeang bs berubah, si penculikkan guru ngaji udah kira2 3tahunan lah, gak pernah ada masalah, so tiba tiba kok bs jadi penculik aneh bin ajaib, udah bertahun tahun perbaikan imej rohis eh huuaancuur sama si penculik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s