J-VEFo (Jakarta Voice of Education Forum) Sebagai Upaya Menjawab Permasalahan Pendidikan Ibu Kota


Peranan mahasiswa dalam pembenahan dan juga perbaikan bangsa adalah fakta sejarah yang telah sama-sama disaksikan bangsa Indonesia. Mulai dari pergerakan tahun 1966, 1998, hingga di masa kini mahasiswa senantiasa setia menjadi pengawal perbaikan bangsa. Tentunya kemanfaatan dan juga dampak positif pergerakan-pergerakan mahasiswa ini seharusnya dapat dirasakan terus oleh bangsa Indonesia dan tidak berakhir hanya dengan wacana, slogan, atau perang kata di media. Peranan mahasiswa dalam menyuarakan permasalahan rakyat dan menjadi bagian dari solusi masalah-masalah tersebut menjadi tuntutan dan amanah yang harus diemban. Sehingga, atribut kemahasiswaan tidak hanya sekedar simbol yang kering dari pengabdian.

Wajah Indonesia tentunya tercermin dari wajah Jakarta sebagi ibu kota negara. Jakarta sebagai ibu kota negara tentunya memiliki berbagai macam permasalahan dibalik gemerlap dan kemegahannya, mulai dari masalah sosial, transportasi, kesehatan, pendidikan, kependudukan, dan masih banyak lagi. Permasalahan-permasalahan ini tentunya patut untuk disuarakan dan dicarikan penyelesaiannya. Disinilah peran mahasiswa, khususnya mereka yang mengenyam pendidikan di Jakarta, untuk menjadi garda terdepan dalam menyuarakan masalah-masalah tersebut dan menjadi bagian dari solusinya. Ketika mahasiswa di Jakarta telah bersuara lantang dan bekerja untuk perubahan tentunya menjadi sumbangan semangat bagi perjuangan mahasiswa di daerah-daerah lainnya. Apalagi akses informasi dan sarana yang lebih mendukung di wilayah Jakarta menjadi modal penting yang menyebabkan perjuangan tersebut tidak bisa ditawar lagi.

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah sebuah perguruan tinggi yang secara de facto merupakan satu-satunya universitas negeri yang seluruh kampusnya berlokasi di Jakarta. Atau dengan kata lain,UNJ adalah satu-satunya universitas negeri di ibu kota negara ini. Tentunya, peran mahasiswa UNJ menjadi sangat strategis dalam menyuarakan permasalahan rakyat, khususnya masyarakat ibu kota, dan menjadi bagian dari solusinya. Berdasarkan sejarah, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) merupakan wajah serta nama baru dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta. Tentunya latar belakang sejarah ini tidak bisa dipisahkan dari ruh UNJ sebagai sebuah institusi pendidikan. Masa lalunya sebagai IKIP membuat UNJ menjadi universitas yang berfokus pada permasalahan pendidikan. Hal ini tentunya menjadi dasar bagi perjuangan mahasiswanya yang seyogyanya juga menjadikan pendidikan sebagai sasaran perjuangan utama.

Masalah pendidikan di Jakarta tentunya memiliki perbedaan dari daerah-daerah lain. Tentunya hal yang konyol dan sangat memalukan jika masalah pendidikan di Jakarta masih seputar bangunan sekolah yang roboh, guru yang berbulan-bulan tidak digaji, atau jumlah siswa yang tidak lulus ujian nasional melebihi jumlah di daerah lain. Hal ini didasari pada peran, posisi, dan keuntungan strategis menjadi ibu kota negara. Akan tetapi, seperti sebuah paradoks, jika di daerah lain gaji guru yang rendah menjadi masalah, di Jakarta gaji guru yang baik masih berpotensi menimbulkan masalah. Jika di daerah lain jumlah guru yang sedikit merupakan masalah, di Jakarta jumlah guru yang melimpah juga masih menyisakan masalah. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah lembaga yang khusus berkomitmen menangani masalah-masalah pendidikan ibu kota.

J-VEFo (Jakarta Voice of Education Forum) adalah sebuah forum yang ditawarkan dan diharapkan mampu menjadi solusi bagi permasalahan pendidikan di Jakarta. Mahasiswa UNJ tentunya yang akan membidani dan mengelola lembaga ini. Dengan fakultas-fakultas yang seluruhnya menawarkan program studi pendidikan bahkan satu fakultas khusus yang berfokus pada pendidikan, yaitu Fakultas ilmu Pendidikan (FIP),membuat UNJ memiliki sumber daya mahasiswa yang cukup dan mumpuni dalam membantu penanganan permasalahan pendidikan. Mahasiswa-mahasiswa tersebut tentunya memerlukan sebuah wadah atau forum untuk menganalisis permasalahan pendidikan yang ada, mencari ide dan peluang untuk mengupayakan penyelesaiannya, bahkan menjadi kader-kader pengawal kebijakan pendidikan Jakarta.

Untuk mengetahui peran yang dapat diambil J-VEFo terhadap masalah pendidikan Jakarta, tentunya penting untuk mengkaji terlebih dahulu permasalahan-permasalahan yang ada. Masalah-masalah tersebut umumnya bersumber pada kebijakan yang diberlakukan mengenai sistem pendidikan, kesejahteraan guru, serta masalah-masalah lain yang dipengaruhi oleh posisi Jakarta sebagai ibu kota. Dari analisis permasalahan-permasalahan tersebut dapat dibuat gagasan-gagasan yang berujung pada penanganannya. Sehingga forum ini memiliki efektifitas dalam bekerja dan posisi tawar yang baik untuk bisa didengar para pembuat kebijakan pendidikan di Jakarta.
Permasalahan pendidikan yang pertama berkaitan dengan sistem pendidikan di Jakarta. Perkembangan kurikulum yang diberlakukan tentunya menjadikan Jakarta sebagai wilayah percontohan dalam penerapan kurikulum tersebut. Hal ini tentunya berpengaruh pada kesiapan guru serta siswa dalam menjalankan sistem pendidikan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji terlebih dahulu kebijakan-kebijakan pendidikan yang akan diberlakukan. Di sinilah peran J-VEFo di tuntut, yaitu untuk menganalisis dan mendiskusikan segala kebijakan tersebut sebelum diterbitkan ke ruang publik. Analisis dan diskusi ini dimaksudkan untuk mencari hal-hal positif yang dapat dikembangkan atau bahkan kekurangan-kekurangan yang dapat menjadi celah bagi munculnya ketidakefektifan pada pelaksanaan kebijakan tersebut nantinya. Jika segala kebijakan pendidikan telah dikonsultasikan dan dipertimbangkan dengan lebih menyeluruh dianggap dapat mengurangi kemungkinan munculnya masalah lain yang berdampak pada kualitas pendidikan di Jakarta.

Selain yang berhubungan dengan kebijakan sistem pendidikan, permasalahan yang selanjutnya adalah mengenai kesejahteraan guru. Menteri pendidikan, Bambang Sudibyo, dalam kutipan wawancara detik.com menyatakan bahwa saat ini gaji guru di Jakarta sudah mencapai 2,5 juta per bulannya (http://www.detiknews.com/read/2009/08/03/150632/1176564/10/gaji-guru-jakarta-naik-rp-25-juta-keterlaluan-). Beliau melanjutkan bahwa keterlaluan jika sekolah masih menarik pungutan dengan kondisi gaji guru yang sudah dianggap mencukupi tersebut. Seperti yang telah di kemukakan sebelumnya bahwa masalah kesejahteraan guru adalah masalah utama yang mendesak untuk dibahas. Khususnya di Jakarta, kesejahteraan guru dapat dikatakan lebih baik dibandingkan dengan daerah-daerah lain, akan tetapi hal ini masih menimbulkan beberapa permasalahan baru. Diantara permasalahan-permasalahan tersebut, yang paling penting untuk diperhatikan adalah masalah profesionalisme guru.

Dua permasalahan yang berkaitan dengan profesionalisme guru meliputi masalah pendidikan guru hingga disiplin dan fokus kerja. Mengenai pendidikan guru di Jakarta dapat dianalisis pertama kali dari persoalan kesejahteraan. Di Jakarta, seperti yang telah dinyatakan oleh Menteri Pendidikan Nasional, guru mendapatkan bayaran yang cukup. Hal ini menjadikan guru sebagai profesi yang menjanjikan dan akhirnya banyak diminati. Dampak yang kemudian timbul adalah munculnya guru-guru yang sebenarnya tidak berlatar belakang pendidikan yang sesuai namun “memberanikan diri” untuk menjadi guru. Tentunya hal ini berpengaruh pada kompetensinya sebagai guru (kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, dan sosial (PP no.19 tahun 2005)), yang berarti tidak hanya soal pengetahuan mengenai pelajaran yang diajarkan, akan tetapi juga bagaimana cara mengajarkan dan bersikap sebagai seorang guru. Hal lain adalah mengenai disiplin dan fokus kerja para guru, yang lagi-lagi berkaitan dengan kesejahteraan. Seperti yang telah diketahui bahwa saat ini marak berita mengenai sertifikasi bagi guru. Guru yang telah mengikuti proses sertifikasi tentunya mendapatkan keuntungan tambahan khususnya dalam hal insentif. Keadaan ini dikhawatirkan dapat membiaskan fokus guru dalam mengajar sebagai tugas utamanya, sehingga mereka dapat berpotensi menomorduakan tugas utamanya tersebut. Hal-hal inilah yang akan menjadi bagian pembahasan J-VEFo. Melalui forum ini, kebijakan-kebijakan pendidikan yang dikeluarkan pemerintah Jakarta, seperti contoh-contoh diatas, dapat dikaji dan dilihat sisi positif dan negatifnya.

Permasalahan pendidikan berikutnya adalah yang berkaitan dengan posisi Jakarta sebagai ibu kota Negara. Sebagai ibu kota tentunya Jakarta menyerap banyak budaya berpikir yang berasal dari Negara-negara lain dan tentunya menjadi standar ukur Indonesia untuk dibandingkan dengan Negara lain. Adaptasi bahkan adopsi pemikiran ini juga berpengaruh terhadap pendidikan di Jakarta. Hal ini yang mungkin menjadi penyebab munculnya konsep homeschooling sampai sekolah berstandar internasional. Keberadaan homeschooling yang marak saat ini tentunya harus banyak dikaji terlebih dulu mengenai sistemnya, kesesuaiannya dengan budaya di Indonesia, hingga persoalan psikologi siswanya. Selain itu juga perlu diadakan kajian yang lebih mendalam mengenai efektifitas sekolah, sehingga didapati jawaban mengapa homeschooling menjadi alternative yang banyak diminati. Bahkan dari berita yang ditulis Kompas.com bahwa telah diadakan festival homeschooling Indonesia II pada 18-19 Juli 2009 lalu (http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/07/17/20203424/festival.homeschooling.indonesia), yang dapat dilihat sebagai sebuah perkembangan sistem pendidikan ini. Selain itu, keberadaan sekolah-sekolah berstandar internasional perlu mendapat kajian yang lebih utuh, agar sekolah-sekolah ini benar-benar mampu dan siap bersaing secara internasional. Kembali peran J-VEFo sebagai forum kajian mahasiswa yang senantiasa mengawasi dan memberikan pertimbangan-pertimbangan yang diharapkan mampu membantu mencarikan solusi bagi permasalahan pendidikan Jakarta.

Contoh-contoh permasalah yang telah diuraikan hanyalah sedikit dari persoalan pendidikan yang dihadapi Jakarta. Masih banyak lagi permasalahan yang menunggu untuk diselesaikan, apalagi yang bersentuhan dengan permasalahan sosial. Sebagai contoh permasalahan jumlah anak jalanan yang ada di Jakarta. Tentunya amat diperlukan data sebenarnya mengenai jumlah anak jalanan di Jakarta yang bersekolah atau tidak. Dari data yang diperoleh mengenai anak yang putus sekolah di Jakarta tahun 2008 menunjukkan bahwa di tingkat SMA jumlah anak putus sekolah sebanyak 1.253 orang, SMK 3.188 orang, SMP 1.947, dan SD 571 orang (http://metro.vivanews.com/news/read/25302-ribuan_anak_ibu_kota_putus_sekolah). Dari data ini bisa dilihat alasan anak-anak tersebut putus sekolah serta berapa diantara mereka yang merupakan atau yang kemudian menjadi anak jalanan. Sehingga data yang tersaji tidak hanya sekedar data, akan tetapi dijadikan dasar mencari solusi, seperti keberadaan program pendidikan gratis atau pemberdayaan program pendidikan luar sekolah. Diskusi dan kajian-kajian di forum-forum mahasiswa tentunya bisa dijadikan salah satu pertimbangan untuk mencari solusi masalah ini.

Dari permasalahan-permasalahan pendidikan, yang beberapa contohnya telah disebutkan tadi, ide untuk mendirikan satu forum mahasiswa bernama Jakarta Voice of Education Forum (J-VEFo) muncul. Sangat disadari bahwa forum seperti ini bukanlah hal baru khususnya di UNJ yang nota bene berlatar belakang kampus pendidikan. Akan tetapi, masih belum ada satu forum yang mapan dan diakui serta memiliki posisi tawar yang baik untuk didengar ide-idenya. Oleh karena itu, J-VEFo direncanakan mampu untuk diterima di tingkat pemegang kebijakan kampus sehingga mendapatkan dukungan dan efektif dalam menjalankan misinya. Program ini ditawarkan untuk dikelola oleh organisasi pemerintahan mahasiswa (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang secara legal dan formal diakui keberadaan serta otoritasnya.

Jakarta Voice of Education Forum (J-VEFo) adalah forum kajian mahasiswa yang membahas isu-isu seputar pendidikan yang berkembang di Jakarta khususnya. Seperti yang telah dijelaskan bahwa untuk menjadi sebuah forum yang efektif diperlukan adanya sebuah pengakuan dan kemapanan organisasi. Hal ini memberikan kesadaran bahwa di awal forum ini harus berupaya menjadi “mitra” universitas dalam mengkaji masalah pendidikan. Sehingga, analisis permasalahan yang dibuat serta ide-ide yang disajikan dapat diperhitungkan Ketika kepercayaan dari lingkungan universitas telah didapatkan, akan lebih mudah bagi forum ini untuk berbicara pada lingkup yang lebih luas.

Selain mengadakan kajian dan penelitian mengenai permasalahan pendidikan, forum ini juga dapat menjadi inisiasi bagi dibentuknya sebuah lembaga pendidikan bagi masyarakat tidak mampu. Di bawah naungan dan arahan universitas, diharapkan forum ini mampu menjadi motor pengelola lembaga pendidikan ini. Mempunyai lembaga pendidikan atau sekolah binaan bukanlah hal baru bagi UNJ atau IKIP Jakarta sebelumnya. Akan tetapi dalam perkembangannya sekolah-sekolah tersebut menjadi sekolah yang mapan dan tentunya tidak dapat dilepaskan dari orientasi keuntungan. Dengan J-VEFo diharapkan UNJ dapat mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang jauh dari motif ekonomi dan diperuntukkan bagi masyarakat tidak mampu, sebagai pengejawantahan salah satu dari Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian terhadap masyarakat.

Pendidikan adalah aspek dalam kehidupan yang bahkan menjadi salah satu sumber dari kehidupan itu sendiri. Syafrudin (2004:228) mengatakan bahwa pendidikan merupakan core competence dan inti kehidupan suatu masyarakat. Lanjutnya, seluruh problematika bangsa dan manusia di dunia sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Jadi, bukanlah hal yang berlebihan jika masalah pendidikan menjadi fokus sebuah bangsa. Bukanlah menjadi hal yang mengherankan jika di negeri ini tiap tahunnya masalah anggaran pendidikan, kualitas murid, sistem pendidikan, dan permasalahan kelulusan ramai diributkan. Sebagai universitas yang merupakan metaforfosis dari sebuah institut keguruan, bukanlah hal yang aneh jika UNJ menitikberatkan perhatiannya pada masalah pendidikan. Demikian halnya para mahasiswanya, hendaknya menjadikan permasalahan pendidikan sebagai isu utama dari perjuangannya. Sehingga kerja nyata mahasiswa Universitas Negeri Jakarta lebih dapat dirasakan dikarenakan perjuangan mereka berada pada domain keilmuan mereka yang tentunya merupakan modal utama dalam menjawab permasalahan, khususnya bagi pendidikan di ibu kota yang merupakan tempat dimana mereka berkarya dan melihat permasalahan-permasalahan tersebut secara lebih nyata.

Referensi:
Syafrudin, Lc, Amang. 2004. Muslim Visioner. Depok : Pustaka Nauka
http://www.detiknews.com/read/2009/08/03/150632/1176564/10/gaji-guru-jakarta-naik-rp-25-juta-keterlaluan-, diunduh 10 Agustus 2009.
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/07/17/20203424/festival.homeschooling.indonesia, diunduh 10 Agustus 2009.
http://metro.vivanews.com/news/read/25302ribuan_anak_ibu_kota_putus_sekolah, diunduh 10 Agustus 2009.

Ditulis oleh Alpiah Pijri
Mahasiswi Univ, Negeri Jakarta
-essay ini ditulis untuk memenuhi syarat MITI-Award tahap II dan berhasil menjadi essay terbaik wilayah Jabaja-

Selasa, 20 Oktober 2009. Sumber: MITI Mahasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s