Blogmu, Warisanmu


Kakekku yang bernama Sutan Makmur Sudin menulis sendiri buku mengenai perjalanan hidupnya. Aku biasa menyebut kakekku itu dengan sebutan “angku”, sedangkan untuk nenek kusebut “andung”. Di kepala ini, memori mengenai pertemuan dengan angku sudah tak ada sama sekali. Tapi foto-foto yang masih tersimpan rapi serta buku autobiografi karya beliau membuatku bisa sedikit merasakan kehadirannya. Kupahami cara berpikir beliau, kucoba meresapi pesan-pesan yang ingin beliau sampaikan untuk anak dan cucunya.

Saat ini, ketika buku pelajaran telah berubah menjadi buku elektronik, hadir pula blog yang bisa dipakai sebagai pengganti buku harian. Banyak orang memanfaatkan blog untuk sekedar mencurahkan isi hati, untuk menambah penghasilan, berdakwah, hingga mencari jodoh. Aku sendiri awalnya menulis di blog untuk berlatih menulis bahasa Inggris. Namun seiring berjalannya waktu, blog ini menjadi ”blog gado-gado” dengan sedikit melupakan niat di awal, karena kebanyakan tulisan di blog ini memakai bahasa Indonesia😀

Perkembangan teknologi memang tak pernah ada habisnya. Sudah ada blog, muncul pula microblog. Sebutlah microblog ini bernama twitter. Para blogger yang tadinya aktif menulis di blog menjadi lebih suka menumpahkan isi pikirannya dalam 140 karakter. Hal macam ini wajar saja terjadi, karena manusia memiliki sifat ingin mencoba sesuatu yang baru. Ada juga yang memiliki tipe cepat bosan dan sudah memiliki keasyikan tersendiri di ranah microblog. Lalu apa yang bisa dilakukan agar para blogger dapat kembali ke habitat awalnya?

Salah satunya adalah dengan menjadikan blog sebagai warisan. Duh, kesannya serem banget ya belum “dipanggil” kok udah mikir warisan? Hehe..😀 But, siapa yang tahu sih umur manusia akan sampai dimana?

Kembali lagi ke tulisan awal, banyak pelajaran yang bisa kuambil dari tulisan angku, yang kertas dalam buku biografinya mulai menguning karena termakan zaman. Kehadiran blog juga kuniatkan untuk menjadi warisan untuk anak cucuku nanti. Entah apa yang akan mereka dapatkan dari blog sederhana ini. Dengan memiliki niat seperti itu, rasanya kehadiran teknologi baru macam apapun (seperti micro blog) tidak terlalu berpengaruh. Karena melalui blog ini tulisan-tulisan kita akan tersimpan dengan rapi, tidak seperti microblog yang terbatas baik dari segi keleluasaan menulis maupun keterbatasan penyimpanan arsip tulisan.

Nah, bloggers, mari kembali ngeblog untuk menginspirasi anak cucu kita nanti! Hehe…😀

(Tulisan ini diikutsertakan dalam “Blogger Return Contest” yang disponsori oleh DENAIHATI)

13 thoughts on “Blogmu, Warisanmu

  1. wah, mengaitkan blog dengan historical things😉
    tetapi saya setuju, blog adalah warisan. apalagi kalau di dalam dijejali banyak hal tentang pemikiran kita🙂
    *blognya Dida yang lama tidak bisa diwariskan yak?😐

  2. dari liat judulnya dah menarik banget, ukh.. Semoga sukses ya, saya ga ikut.. hehe..

    btw, syukron ya link-nya, mbk orang kedua yang menuliskan link saya dengan nama lengkap saya..^^’

  3. Pingback: Final Daftar Peserta Lomba « Catatan Anazkia

  4. Setuju, tapi satu hal yang perlu diingat. Kalau bisa menggunakan platform blog yang dari segi kepopuleran dan finansial kuat, misal Blogger (milik Google) atau WordPress. Soalnya jangan sampai ujung-ujungnya salah pilih penyedia blog yang suatu saat bisa berhenti beroperasi karena bangkrut. Nah inilah salahsatu keunggulan free blog hosting daripada beli domain hosting sendiri yang suatu saat bisa hilang karena ga diperpanjang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s