Ospek, Antara Kenyataan dan Harapan


Saya paling males kalau disuruh masukin baju ke dalam rok. Orang bilang biar rapi, tapi entah kenapa saya merasa risih. Sejak SMA sudah cukup sering ditegur guru (maaf ya pak, bu..), sampai kuliah ternyata kebiasaan ini membawakan hasil.

Alkisah saat ospek berlangsung, ketika itu kakak-kakak senior yang penuh wibawa menugasi mahasiswa baru dengan tugas ini dan itu. Saya nurut dan mencoba mengerjakan tugas-tugas kecuali satu, nggak masukin baju ke dalam rok saat ospek berlangsung.

Alhasil suatu ketika saya dan beberapa teman lain yang dianggap melakukan pelanggaran digiring ke sebuah ruangan yang isinya ramai dengan kakak-kakak senior. Wuih.. serem auranya saat itu. Kami disuruh membuat lingkaran, dibentak-bentak dengan maksud untuk introspeksi diri. Saat itu ada teman yang sampai menangis. Sungguh sayang air mata yang sudah dikeluarkan. Ujung-ujungnya saya disuruh menenangkan teman yang menangis.

Dalam hati saya kesal, karena tau ini semua hanya sandiwara. Mereka itu kakak-kakak yang baik yang sedang melaksanakan “ritual” bernama ospek. Sepengetahuan saya ospek itu dilaksanakan agar mahasiswa baru tau seluk beluk universitas tempat mereka menggali ilmu, bukannya malah “dikerjain” seperti ini.

Iya sih, nggak ada ospek juga nggak rame. Mahasiswa baru juga butuh pengalaman. Kakak kelas juga butuh “penghormatan”, begitu kan? Tapi rasa hormat antara mahasiswa juga bisa tumbuh tanpa “menindas” mahasiswa baru. Bukannya mahasiswa adalah change agent yang menolong golongan tertindas?😀

Harapan saya, acara di ospek bisa dibuat menjadi lebih ramah, fokus dan bermanfaat. Jadi kesan angker bisa dihilangkan. Harapan kecil lainnya adalah agar mahasiswa baru bisa lebih berani, lebih bersuara.. Dan ospek menjadi kegiatan opsional, bukan kewajiban (banyak maunya nih saya… u.u).

Untuk panitia ospek: “dihormati” dan “ditakuti” itu berbeda…

Link terkait: ospek di Australia

3 thoughts on “Ospek, Antara Kenyataan dan Harapan

  1. tapi anehnya, kalo nggak ada semacam itu, jadinya Ospek kurang berkesan *eh:mrgreen:
    jadi mungkin solusinya ya Ospek dikemas secara mendidik, lebih bertujuan ke orientasi kampus dan kebanggaan ber-almamater dg ngilangin sandiwara² yg menurut saya “udah bukan jamannya lagi”😛 . tapi tetap tidak menghilangkan kesannya bahwa kita sedang Ospek: berbaris, gundul (bagi yg laki), dan juga seragam dalam kostum🙂

  2. fi pribadi sebenarnya kurang setuju sama ospek loh..
    banyak ga manfaatnya sih..

    tp kalau disikapi dengan bijak banyak juga manfaatnya, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s