Selimut Debu


Bulan Agustus ini akhirnya khatam membaca buku yang ditulis oleh Agustinus Wibowo. “Selimut Debu” judul bukunya, apik nian cover bukunya. Ketika papa saya melihat sekilas buku ini, yang langsung beliau tanyakan adalah tentang agama si pengarang. Saya cukup terkejut mendengar pertanyaan itu. Karena baru separuh perjalanan membaca bukunya, dan memang saya benar-benar tidak tahu agama si pengarang, langsung saja saya menjawab: “Islam kok, sepertinya…”.

Belakangan ini papa memang terkesan mewanti-wanti buku apa saja yang saya baca. Mungkin karena saya pernah membaca buku karangan jamaah JIL (Jaringan Islam Liberal), papa takut anaknya ini jadi “aneh”. Padahal, justru saya ingin tau seperti apa JIL itu bukan dari omongan atau pendapat orang lain saja, tapi dari membaca tulisan-tulisan mereka. Ketika ingin tau tentang komunis, saya mencari buku-bukunya pak Pramoedya, sampai Tan Malaka. Namun dibalik semua rasa curiga papa, saya merasakan kasih sayang yang tiada tara (duilee bahasanya :p ).

Kembali ke Selimut Debu.

Afghanistan. Negara yang identik dengan perang, Taliban, dan kegersangan ini menjadi tempat seorang Agustinus Wibowo mengembara. Saya lebih senang menyebutnya “mengembara” karena pada umumnya orang yang traveling identik pergi ke tempat-tempat menyenangkan, indah nan permai hingga hasil fotonya bisa diupload di facebook. Nah, pengarang selimut debu ini justru mengembara ke tempat yang penuh debu dan konflik. Sebenarnya, apa yang hendak dicari?

Banyak nama-nama tempat yang muncul, banyak pula sejarah yang terungkap. Membaca buku ini membuat saya bersyukur dan menangis. Bersyukur untuk apa yang sudah saya terima dalam kehidupan. Menangis untuk mengetahui bahwa saya ingin sekali mengembara seperti Agustinus namun terbentur oleh fakta bahwa saya adalah perempuan. Tak bisa sebebas itu. Ada tugas mulia yang menanti saya: menjadi seorang ibu.

Apa yang terjadi di suatu tempat, tidak sama dengan apa yang terjadi di belahan bumi lain. Adek saya sedang sangat nge-fans dengan para mujahidin, salah satunya dengan Taliban. Informasi mengenai Taliban, Syiah dan wanita mengenakan Burqa dapat saya temui di buku ini, dari kacamata seorang Agustinus Wibowo.

6 thoughts on “Selimut Debu

  1. Akhirnya khatam juga Bu Dida, hehe.
    AFAIK, penulisnya beragama Buddha. Tapi tidak ada propaganda agama apapun di dalam buku ini. Penulis berusaha menggambarkan perjalanannya tanpa ada bias SARA. Jadi yang saya lihat adalah keanekaragaman yang dilihat dari sisi yang humanis, seperti nasihat Shah dari Panja.
    Saya juga tidak bisa melihat seisi dunia seperti Agustinus. Namun berkat buku ini, saya bisa melihatnya sekilas🙂.

    • wahh udah dikasih tau duluan deh agamanya ^^ oia pembaca blog ini yang budiman, juragan triplefortune lah yang menyumbangkan buku Selimut Debu untuk Pustaka Rusana Makmur. many thanks pak Yoga!!

  2. Yah, kok buka kartu =.=… *kabuuur*
    Hehe, di buku emang ga ditulis agama penulisnya apa. Itu cuma bisa diketahui dari blognya…
    Semoga koleksi perpustakaan makin banyak & bermanfaat ya.

  3. sepertinya jadi tertarik membaca buku yg mengupas hal (berbau) ke-Islam-an dari sudut pandang seorang non Muslim. Jika penilaiannya obyektif, kita akan menemukan emosi rasionalitas si pengarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s