Botanical Garden


Disana, ketika orang banyak berolah raga, ia memilih jalan perlahan-lahan. Ke tempat sepi supaya bisa menyendiri. Meski tahu bahwa tak pernah ia benar-benar sendiri. Perihal apa yang membawanya kesana? Ternyata tentang kebaikan dan keburukan, yang telah ada sejak Nabi Adam. Ia lalu melewati jembatan kayu, yang tak pernah berubah sejak dahulu.

Melihat wujud dari kata-kata. Itu yang ia tunggu. Daun telinganya masih terbuka lebar untuk mendengar.  Matanya masih digunakan untuk melihat. Namun hatinya terkunci sudah mulai menyeleksi.

7 thoughts on “Botanical Garden

  1. Menurutku, ini gambaran puitis Dida ketika berada di botanical garden.
    Sepi memang tempat yang tepat bagi sebagian orang untuk berintospeksi bahkan menggali imaji.
    Ehmm… kira-kira di sana banyak nyamuknya ga? ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s