Kisah Pahit di Perantauan #1


Oleh: M. Syamsi Ali

Qul siiruu fil-ardh…fandzhuru kaefa kaana aaqibatulladzina min-qablikum (Katakanlah, berjalanlah kamu di atas bumi ini dan perhatikan bagaimana akibat2 yang telah menimpa orang-orang sebelum kamu).

 

Merantau sesungguhnya boleh jadi merupakan implementasi dari intisari ajaran Al-Qur’an. Kita diperintahkan berjalan, bermusafir, menaklukkan ketinggian gunung dan kedalaman samudra dengan tujuan agar kita mampu membuka mata. Agar dengan perjalanan itu kita mampu membuka wawasan dan penglihatan.

 

Dalam berjalan itu tentu ada berbagai pengalaman dan pelajaran yang akan ditemukan. Ada pengalaman yang indah, nikmat dan menyegarkan. Tapia da juga pengalaman yang buruk, jahat dan menyakitkan. Keduanya tentunya, dan jika saja dilihat dengan pandangan jernih dan positif akan memberikan pelajaran (hikmah) yang luar biasa.

 

Dalam merantau (musafir) ada banyak tantangan dan rintangan yang akan dihadapi itu. Dan karenanya, perjalanan itu disebutkan dalam sebuah hadits sebagai ‘adzab’ (hukuman). Tantangan itu boleh jadi pada tataran pribadi, keluarga, maupun pada tataran sosial kemasyarakatan.

 

Tulisan yang singkat ini akan menceritakan beberapa peristiwa faktual yang terjadi kepada para perantau Muslim di AS. Contoh-contoh ini hanya representasi dari berbagai kejadian yang memang terjadi dalam masyarakat perantau itu. Yang pasti bahwa cerita ini ‘real’ dan bukan cerita fiktif.

 

I used to be a Muslim

 

Seorang teman, da’i dan aktifis Muslim, kini hidup di kota Colombus Ohio, AS, menceritakan. Bahwa suatu ketika beliau diundang untuk memberikan ceramah di LA, California. Sebuah perjalanan yang cukup jauh dan menantang, apalagi bagi seorang da’i yang memang di AS terkadang kesibukannya melampaui perkiraan kebanyakn orang.

 

Di saat duduk di pesawat menunggu ‘take off’ datanglah seorang wanita muda duduk di sampingnya. Nampak penumpang ini masih relative muda dan berwajah kebarat-baratan (European face). Setelah duduk dan pesawat siap untuk terbang, basa-basi sang cewek menanyakan apakah kalau dia (teman) itu seorang Muslim. Mungkin karena wajahnya yang kebetulan memang berlatar belakang Asia Selatan (India). Setelah teman itu menjawab “yes, I am”, keduanya terdiam menunggu pesawat itu tinggal landas.

 

Setelah pesawat mencapai ketinggian, teman tadi mencoba bertanya kembali ke cewek itu. “Why did you ask me if I am a Muslim”? “Oh no. Nothing” jawabnya cuwek.

 

Teman ini sangat ingin tahu kenapa dia bertanya dan apa yang ada di benak wanita muda itu. Diapun mengambil insiatif untuk berbicara dengan mengatakan bahwa dia terkadang ingin tahu kenapa ada orang di sekitarnya ingin tahu akan agamanya. “I often feel that people may be scared of my Outlook. Do you”?

 

Wanita itu melihta kepadanya dan tersenyum seraya menjawab: “Oh no! I have nothing to worry about at all”.

 

“But isn’t it that you’ve been getting a lot of information about the religion that may have worried you”? Tanya teman itu memancing.

 

“Yah..I think there have been a lot of things happened around and it’s really scary to many”, jawabnya singkat dan sepertinya acuh tak acuh.

 

Teman itu kemudian mengambil kendali dan memulai menjelaskan tentang bagaimana media telah memanipulasi wajah Islam yang sesungguhnya. Bagaimana informasi yang ada di sekeliling kita memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalam membentuk pandangan dan pola pikir manusia terhadap sesuatu.

 

Beliau kemudian menjelaskan beberapa contoh miskonsepsi yang terjadi dalam masyarakat mengenai Islam sebagai akibat dari pengaruh media yang tidak jujur. Dilanjutkan kemudian oleh beliau dengan meluruskan beberapa konsep yang sesungguhnya dalam agama Islam itu. Dari masalah ketuhanan, kenabian (khususnya nabi Muhammad SAW), Al-Qur’an, dan beberapa konsep lainnya termasuk Jihad dan wanita dalam Islam.

 

Teman itu sangat serius dan bersemangat dalam berbicara, walau dia menyadari bahwa wanita itu nampak tak acuh terhadap omongannya. Tiba-tiba saja cewek itu menyelah: “Sorry, but I know what you’re talking about”.

 

Teman itu hampir tidak percaya. “Excuse me? Did you say that you know Islam”? tanyanya heran.

 

“Yes” jawabnya tegas dan serius.

 

“Where did you study it”? Tanyanya lagi.

 

Dengan memandang kepada teman itu dan tanpa ada rasa malu, dia menjelaskan: “Sir, I used to be a Muslim. But I am now I am not!”.

 

Teman itu terdiam seribu bahasa. Terasa sedang terhimpit sebuah batu besar, dadanya sesak, pandangannya berkunang, seolah sedang tak sadarkan diri. Hanya kata-kata: “Oh my God, and what had happened to you?”.

Cewek itupun bercerita panjang lebar mengenai latar belakangnya. Bahwa dia terlahir dari keluarga yang cukup beragama. Kedua orang tuanya juga adalah imigran yang datang ke AS, kerja keras dan telah menjadi warga negara Amerika. Dia sendiri memang terlahir di negara ini. Sayangnya, menurutnya lagi, orang tuanya tidak pernah memberikan kesempatan kepadanya mempelajari agama ini. Semuanya harus diterima apa adanya dan kalau ada sesuatu yang saya tidak terima atau minimal pertanyakan, dia akan langsung dicap sebagai ‘anak yang durhaka kepada Allah, Rasul dan kedua orang tuanya”.

 

“I am tired!”, katanya.

 

Teman ini terdiam mendengarkan cewek itu yang kira-kira umurnya baru mencapai 22 atau 23 tahun. Hanya satu pertanyaan yang terlontar darinya di tengah kecamukan jiwa dan pikirannya. “And so what is your religion now?” Tanyanya.

 

“I don’t have any”, jawabnya cepat, tapi disambung lagi: “But I do believe in God, though”.

 

Teman itu mencoba menasehatinya, tapi nampak dia memang pinter bersilat lidah. Dia juga sangat keras kepala, dan bahkan mengatakan telah bersumpah untuk menceraikan agamanya jika telah mencapai batas umur dewasa (18 tahun). “I am sorry, I am really tired of all those stupid things in my family’s life”, dengan wajah yang nampak gerah.

 

Teman itu mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia sendiri sebenarnya tidak tahan mendengarkan banyak ‘kata-kata” pedís mengenai Islam dan keluarganya sendiri yang keluar dari mulut anak tersebut. Dia bertanya: “And so, you don’t live with your parents any more?”. “No”, jawabnya singkat.

 

“So, where are you going?” tanyanya lagi. “I am going to see my boy friend for w few days”, jawabnya enteng.

Tanpa terasa perjalanan dari Columbus ke California itu yang panjang itu berlalu. Teman yang da’i, seorang aktifis, yang lewat usahanya Allah telah menunjuki beratus-ratus hambaNya, kini harus diperhadapkan kepada sebuah realita yang mneyakitkan. Alam cakrawala pemikirannya pun terbuai oleh kepedihan hatinya mendegar pengakuan lugu dari seorang wanita muda itu.

 

Dia memandang jauh ke luar jendela, menatap awan-awan yang ada di sekeliling. Terasa hampa, terasa tiada ujung perjalanan itu. Tapi dia mencoba mengendalikan diri, meyakinkan hati, bahwa sesungguhnya di balik awan itu ada mentari yang sinarnya tiada tertaklukkan oleh siapapun. Bahwa di balik kehampaan awan itu ada ujung yang pasti…Bahwa di balik cerita yang pedih ini, harapan itu pasti ada. Amin!

10 thoughts on “Kisah Pahit di Perantauan #1

  1. Ada sebuah hadits dari Aisyah Rodiyallohu ‘Anha, yang kurang lebih maknanya kira-kira seperti ini, -Sesungguhnya jika Rasululloh memulai dakwah ini dengan larang berzina, atau larangan minum Khamr maka niscaya kami tidak akan menjadi Islam-, Perhatikanlah, orang tua si gadis terlalu banyak menekankan larangan dan aturan, padahal islam memulai dakwahnya dengan tauhid dan aqidah disertai kisah-kisah.

    • makasih ya ka atas komentarnya.. sebenarnya kisah ini mengingatkan keadaan saudara saya yang ketika sedang semangat belajar Islam, eh dapet guru ngaji yang sering menakut-nakuti dengan neraka. akibatnya semangatnya luntur dan kurang lebih jadi cuek seperti gadis di cerita ini

  2. Kita yang menyebabkan agama itu susah. Tidak lagi masuk bab furu, iktilaf. Baru jer masuk bab halal haram.

    Pengajian agama perlukan pembaharuan.

    Kata-kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras. (Hamka).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s