Anakku Najla


Alhamdulillah.. Akhirnya sempet juga nge-blog. Setelah menjadi ibu harus pandai curi waktu, hm.. bahasa lainnya mengatur waktu dengan baik🙂

Pembaca blogku yang setia (hihi.. PD banget ya ada yang setia baca blog ini), alhamdulillah.. segala puji bagi Allah, akhirnya anak pertamaku lahir. Namanya Najla Mutia. Keluar dari rahimku dini hari pada 12 Februari 2014.

Pertama-tama akan aku ceritakan sedikit tentang proses persalinanku. Setelah melewati persalinan secara normal, akhirnya aku paham mengapa Islam begitu memuliakan wanita, terutama seorang ibu. Aku akan berusaha untuk tidak menyakiti ibuku. Sebisa mungkin, kalau tak bisa membahagiakannya, jangan mengecewakannya.

Perutku mulai merasakan kontraksi pada tanggal 11 Februari sekitar jam 1 pagi. Hari itu pas sesuai dengan HPL (Hari Perkiraan Lahir). Diawali dengan keluarnya bercak darah. Aku masih mendiamkannya sambil menahan sakitnya kontraksi yang datang. Maksudnya mendiamkan adalah aku belum memberitahukan hal ini kepada siapapun, termasuk suamiku yang sedang tidur. Aku mencatat selang waktu saat kontraksi datang. Sambil terus berdoa dan memohon ampun pada Allah. Ya Allah.. inikah saatnya aku akan menjadi seorang ibu?

Mungkin karena aku tidak tenang karena mau tidur juga susah, akhirnya suamiku bangun. Kuberitahu apa yang terjadi. Suamiku cukup excited dan menawarkan untuk segera ke bidan. Aku tidak mau ke bidan sepagi itu. Biar saja nanti kira-kira jam 6 kami pergi kesana.

Sekitar jam 6 pagi dan setelah memberitahu mamaku dan seluruh penghuni rumah bahwa kontraksiku telah datang, aku dan suamiku bergegas pergi ke bidan. Tiba di bu bidan, beliau berkata kalau aku masih pembukaan 1. Mungkin lahirnya bisa setelah isya atau bisa jadi lebih dari itu.

Rasanya sudah teramat sakit. Tapi ternyata masih pembukaan 1? Baiklah.. Mari bersabar! Bu bidan menawarkan untuk menginap, tapi aku lebih memilih untuk menikmati kontraksi di rumah. Di bidan akhirnya aku merasakan apa yang dimaksud dengan “periksa dalam”. Tiba di rumah, kerjaanku berjalan kaki, jongkok sambil dengerin alunan murotal syekh sudais. Kadang duduk sambil menangis. Bertanya-tanya.. kapan ini akan berakhir?

Waktu berlalu.. Adzan isya pun tiba. Aku sudah menyiapkan perlengkapan untuk menginap di bidan. Bersama mama dan suami, kami pergi ke bidan. Tiba disana lalu “periksa dalam” lagi, ternyata baru pembukaan 2 yang akan berlanjut ke 3. Heran.. rasa sakitnya sudah mengharukan tapi kenapa baru pembukaan 2? Ditengah rasa heran itu aku bertanya kepada suamiku, apakah rasa sakit ini dapat menggugurkan dosa? Kalau iya maka aku akan berusaha bersabar..

Tak banyak yang bisa kulakukan di tempat bu bidan. Berjalan kaki, menahan sakit kontraksi. Berjalan kaki, menahan sakit kontraksi. Hingga akhirnya bu bidan menyuruh untuk tidur menghadap ke kiri. Di tempat tidur pun aku tak bisa tidur. Mau menghadap kanan atau kiri judulnya sama: sakit! Terlebih menghadap kiri. Tapi sengaja kulakukan (menghadap kiri) agar pembukaan lebih cepat berlangsung.

Semakin malam rasanya makin menjadi-jadi. Aku memang belum berteriak-teriak. Hanya saja ketika kontraksi datang.. Aku ingat bahwa aku mengucapkan “Allahu Akbar!”. Atau beristighfar. Waktu demi waktu berlalu. Aku sudah sangat lelah dan kesakitan. Kuminta suamiku memanggil bidan untuk melakukan pemeriksaan. Dan ternyata sudah pembukaan 8! Suamiku terlihat senang. Aku dibantu mama memasuki ruang persalinan.

Di ruang bersalin, ada bu bidan dibantu dua asistennya. Disampingku ada suamiku dan mama yang menguatkanku. Aku diinstruksikan oleh bu bidan untuk tidak ngeden sampai pembukaan 10. Meski mules ingin ngeden, harus ditahan. Setelah bersusah payah akhirnya bu bidan bilang sudah pembukaan 10. Waktunya ngeden!

Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan Najla. Tapi selalu dibilang cara ngedenku kurang tepat, atau aku kurang mengeluarkan seluruh tenaga. Sudah kucoba berbagaai gaya mulai dari miring kanan miring kiri sambil angkat kaki, apa daya belum keluar juga. Alhamdulillah bu bidan cukup sabar meski wajahnya sedikit terlihat agak BT. Sebenarnya ada apa, kenapa anakku belum mau keluar juga?

Bu bidan akhirnya mengambil inisiatif dengan menyuntikkan suatu cairan agar rasa mulesku tambah hebat. Dan benar saja, aku benar-benar merasa mules. Rasanya ingin kukeluarkan saat itu juga dede bayinya😀 Disuntik sudah, perutku digoyang-goyang agar tambah mules sudah, tapi kok si Najla belum menunjukkan tanda ingin keluar? Kulihat wajah-wajah yang sudah tampak bosan sambil berkata ke bu bidan, “Bu, apa yang bisa saya lakukan biar bayi ini keluar?”. Bu bidan memberi opsi jongkok. Oke, aku akan jongkok!

Setelah mengambil posisi jongkok, aku mulai ngeden lagi setelah kontraksi datang. Alhamdulillah, kepala Najla muncul! Lalu aku ngeden lagi sekuat tenaga dan tampak lebih jelas kepala Najla. Ternyata Najla terlilit tali pusar. Makanya dia agak lama keluar. Oh Najla, kamu hebat nak.. Sudah berusaha mau keluar. Mau bertemu Ummi dan Abi. Makasih ya nak🙂

Tali pusar sudah dibenarkan lilitannya, lalu Najla ditarik keluar oleh bu bidan. Rasanya lega sekali kawan. Najla keluar sambil menangis. Ditaruhlah Najla di dekat dadaku. Niatnya mau IMD (Inisiasi Menyusui Dini) tapi akhirnya ditempelkan juga si Najla untuk menyusu ke ibunya ^^ Sambil memandangi anakku dan memeluknya, bu bidan dan timnya mulai menjahit. Aku diberi tiga jahitan luar dalam. Nyeri-nyeri sedikit saat dijahit, tapi itu sudah tidak terlalu  kupedulikan karena Najla sudah hadir di dunia.

Alhamdulillah.. Selamat datang anakku Najla. Semoga menjadi anak shalihah, berbakti pada orang tua, dan membawa berkah bagi kaum muslimin. Aamiin.. Bagi teman yang belum merasakan melahirkan, sebenarnya aku menulis ini bukan untuk menakuti bahwa melahirkan secara normal itu sakit. Ya.. rasanya memang sakit. Tapi rasa itu akan segera hilang setelah anak kita lahir. Buku mengenai hypnobirthing cukup bagus untuk membentuk mental bahwa kita mampu, kuat, dalam melalui proses persalinan. Semangat!!🙂

8 thoughts on “Anakku Najla

  1. Alhamdulillaah…barokallaahu fiik
    Baca tulisannya, benar2 pengalaman tdk terlupakan. ya hampir smua ibu yg melahirkan normal merasakan itu smua.
    Awal mula perjuangan jd seorang ibu.
    Belum lg nanti ketika dek Najla tumbuh besar. Perjuangan penuh kesabaran, ikhlas & kasih sayang dlm mendidiknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s