Kampanye Haji Selagi Masih Muda

hwlPada umumnya jamaah haji dari Indonesia adalah mereka yang sudah berumur. Banyak alasan sebenarnya yang menyebabkan hal itu terjadi. Bisa jadi karena alasan ekonomi (pergi haji butuh dana yang banyak) atau alasan merasa belum terpanggil ketika masih muda. Atau ada yang beralasan ingin punya ini itu dulu. Padahal haji adalah rukun Islam yang agung. Ibadah yang satu ini tidak hanya membutuhkan kesiapan rohani, tapi juga kondisi fisik yang sehat.

Setelah menikah dan mulai mengatur keuangan keluarga, aku mulai terpikir untuk membuat tabungan haji untukku dan suami. Meski menabung tak seberapa, mudah-mudahan Allah membantu mencukupi. Sebenarnya sudah kucicil dari sebelum menikah. Namun karena sudah punya suami, pengaturan tabunganย jadi berbeda ๐Ÿ˜€

Buku “Hajj With Love” berisi kisah perjalanan sepasang suami istri yang pergi haji ketika berusia muda. Mereka kesana bukan tanpa pengorbanan. Niat yang bulat, usaha keras, meski kadang keraguan melanda. Bahkan sebagai suami istri yang sudah memiliki anak, pada saat itu belum memiliki rumah sendiri. Bagaimana akhirnya mereka memutuskan untuk berhaji? Silahkan baca seterusnya di buku ini ๐Ÿ™‚

Di buku ini juga berisi tips-tips selama melakukan ibadah haji, manfaat berhaji selagi muda.. dan pastinya motivasi untuk berhaji. Ada yang dari segi dana sudah sangat cukup, tapi belum juga melaksanakan haji. Ada yang serba kekurangan, namun bisa berangkat ke tanah suci. Hanya Allah yang membolak balikan hati.

 

Advertisements

Sarjana Pendidikan

Alhamdulillah, bulan maret yang lalu aku telah di wisuda dan meraih gelar S.Pd (Sarjana Pendidikan). Apalah artinya gelar kalau tak bisa mengamalkan ilmu yang didapat.. ^^ Sekitar 4,5 tahun aku menghabiskan waktu untuk mempelajari ilmu Teknologi Pendidikan (TP). Suatu bidang ilmu yang belum pernah kudengar sebelumnya. Sekarang sudah mengerti sedikit alhamdulillah ๐Ÿ˜€

Sebelum mulai mengerjakan skripsi, aku sudah punya persiapan beberapa judul yang ingin kuajukan ke dosen pembimbing. Seiring berjalannya waktu, tak ada satupun dari judul itu yang akhirnya kuajukan. Ternyata pengetahuanku tentang skripsi di bidang TP masih sedikit. Namun ada alasan lain mengapa aku tidak mengajukan judul tersebut, yaitu hamil.

Karena hamil, aku berusaha untuk menahan diri. Sebenarnya aku merasa bisa membuat skripsi yang lebih bagus dari skripsi yang telah kubuat. Namun kalau aku ngotot, konsekuensinya adalah waktu membuat skripsi menjadi lebih lama. Sedangkan kakakku menasehati agar merampungkan skripsi sebelum dede bayi lahir. Kalau bayi sudah lahir, sebagai ibu baru pasti akan merasa repot. Ditambah skripsi bisa-bisa stres sebagai ibu baru. Kalau stres nanti ASI nya susah keluar.

Akhirnya setelah berdamai dengan diri sendiri aku memilih judul yang relatif mudah. Meski dalam hati masih terasa sedih. Tapi setelah dede bayi lahir barulah aku merasakan kerepotan itu. Apalagi aku tak ada asisten pribadi alias bekerja sendiri. Mama papa bekerja. Adik-adik sibuk belajar. Malah jadi bersyukur skripsi sudah selesai sebelum melahirkan ๐Ÿ™‚ Yang aku pelajari dari pengalaman ini adalah adanya rasa penerimaan. Menerima dengan hati lapang bahwa tidak semua yang kita inginkan pasti dapat tercapai. Belajar berkorban untuk orang lain yaitu anakku sendiri. Karena pasti ketika aku tua nanti (kalau ada jatah umur), dia yang akan direpotkan dengan segala perbuatanku yang mungkin bakal terserang pikun. Kalau saat ini saja aku tidak menanam cinta padanya, bagaimana mungkin dia mau merawatku nanti?

Sudah dulu ya.. Mau lanjut nyuci… ๐Ÿ˜€

(Jagakarsa, 22-April-2014)

Surga

Bukittinggi, Pulau Penang, hanyalah sedikitย tempat di dunia ini yang pernah kukunjungi dan membuat jatuh hati. Pemandangan yang memanjakan mata dan makanan lokal yang menggugah selera. Membuat hati tergerak lagi untuk kesana. Namun terbesit pemikiran bahwa Allah yang menciptakan semua ini menyediakan tempat yang lebih indah lagi. Disana ada makanan enak, semua keinginan terpenuhi. Dimana itu? Di surga…

Aku suka membayangkan surga itu seperti apa. Katanya penuh kenikmatan. Tiada kesedihan, pilu, maupun gundah gulana. Namun aku hanya manusia. Surga yang disiapkan Allah pasti lebih indah dari yang kuduga-duga. Ternyata masuk surga itu ada syaratnya, ada caranya. Tidak gampang namun bukanlah hal yang mustahil juga. Aku ingin berkumpul dengan orang yang kucinta disana.

Ketika kesal,ย 

cemburu,

terbesit rasa iri…

Cepat-cepatlah mengingat Allah.. dan yakinlah ada tempat yang indah luar biasa bagi orang yang bersabar ๐Ÿ™‚

Anakku Najla

Alhamdulillah.. Akhirnya sempet juga nge-blog. Setelah menjadi ibu harus pandai curi waktu, hm.. bahasa lainnya mengatur waktu dengan baik ๐Ÿ™‚

Pembaca blogku yang setia (hihi.. PD banget ya ada yang setia baca blog ini), alhamdulillah.. segala puji bagi Allah, akhirnya anak pertamaku lahir. Namanya Najla Mutia. Keluar dari rahimku dini hari pada 12 Februari 2014.

Pertama-tama akan aku ceritakan sedikit tentang proses persalinanku. Setelah melewati persalinan secara normal, akhirnya aku paham mengapa Islam begitu memuliakan wanita, terutama seorang ibu. Aku akan berusaha untuk tidak menyakiti ibuku. Sebisa mungkin, kalau tak bisa membahagiakannya, jangan mengecewakannya.

Perutku mulai merasakan kontraksi pada tanggal 11 Februari sekitar jam 1 pagi. Hari itu pas sesuai dengan HPL (Hari Perkiraan Lahir). Diawali dengan keluarnya bercak darah. Aku masih mendiamkannya sambil menahan sakitnya kontraksi yang datang. Maksudnya mendiamkan adalah aku belum memberitahukan hal ini kepada siapapun, termasuk suamiku yang sedang tidur. Aku mencatat selang waktu saat kontraksi datang. Sambil terus berdoa dan memohon ampun pada Allah. Ya Allah.. inikah saatnya aku akan menjadi seorang ibu?

Mungkin karena aku tidak tenang karena mau tidur juga susah, akhirnya suamiku bangun. Kuberitahu apa yang terjadi. Suamiku cukup excited dan menawarkan untuk segera ke bidan. Aku tidak mau ke bidan sepagi itu. Biar saja nanti kira-kira jam 6 kami pergi kesana.

Sekitar jam 6 pagi dan setelah memberitahu mamaku dan seluruh penghuni rumah bahwa kontraksiku telah datang, aku dan suamiku bergegas pergi ke bidan. Tiba di bu bidan, beliau berkata kalau aku masih pembukaan 1. Mungkin lahirnya bisa setelah isya atau bisa jadi lebih dari itu.

Rasanya sudah teramat sakit. Tapi ternyata masih pembukaan 1? Baiklah.. Mari bersabar! Bu bidan menawarkan untuk menginap, tapi aku lebih memilih untuk menikmati kontraksi di rumah. Di bidan akhirnya aku merasakan apa yang dimaksud dengan “periksa dalam”. Tiba di rumah, kerjaanku berjalan kaki, jongkok sambil dengerin alunan murotal syekh sudais. Kadang duduk sambil menangis. Bertanya-tanya.. kapan ini akan berakhir?

Waktu berlalu.. Adzan isya pun tiba. Aku sudah menyiapkan perlengkapan untuk menginap di bidan. Bersama mama dan suami, kami pergi ke bidan. Tiba disana lalu “periksa dalam” lagi, ternyata baru pembukaan 2 yang akan berlanjut ke 3. Heran.. rasa sakitnya sudah mengharukan tapi kenapa baru pembukaan 2? Ditengah rasa heran itu aku bertanya kepada suamiku, apakah rasa sakit ini dapat menggugurkan dosa? Kalau iya maka aku akan berusaha bersabar..

Tak banyak yang bisa kulakukan di tempat bu bidan. Berjalan kaki, menahan sakit kontraksi. Berjalan kaki, menahan sakit kontraksi. Hingga akhirnya bu bidan menyuruh untuk tidur menghadap ke kiri. Di tempat tidur pun aku tak bisa tidur. Mau menghadap kanan atau kiri judulnya sama: sakit! Terlebih menghadap kiri. Tapi sengaja kulakukan (menghadap kiri) agar pembukaan lebih cepat berlangsung.

Semakin malam rasanya makin menjadi-jadi. Aku memang belum berteriak-teriak. Hanya saja ketika kontraksi datang.. Aku ingat bahwa aku mengucapkan “Allahu Akbar!”. Atau beristighfar. Waktu demi waktu berlalu. Aku sudah sangat lelah dan kesakitan. Kuminta suamiku memanggil bidan untuk melakukan pemeriksaan. Dan ternyata sudah pembukaan 8! Suamiku terlihat senang. Aku dibantu mama memasuki ruang persalinan.

Di ruang bersalin, ada bu bidan dibantu dua asistennya. Disampingku ada suamiku dan mama yang menguatkanku. Aku diinstruksikan oleh bu bidan untuk tidak ngeden sampai pembukaan 10. Meski mules ingin ngeden, harus ditahan. Setelah bersusah payah akhirnya bu bidan bilang sudah pembukaan 10. Waktunya ngeden!

Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan Najla. Tapi selalu dibilang cara ngedenku kurang tepat, atau aku kurang mengeluarkan seluruh tenaga. Sudah kucoba berbagaai gaya mulai dari miring kanan miring kiri sambil angkat kaki, apa daya belum keluar juga. Alhamdulillah bu bidan cukup sabar meski wajahnya sedikit terlihat agak BT. Sebenarnya ada apa, kenapa anakku belum mau keluar juga?

Bu bidan akhirnya mengambil inisiatif dengan menyuntikkan suatu cairan agar rasa mulesku tambah hebat. Dan benar saja, aku benar-benar merasa mules. Rasanya ingin kukeluarkan saat itu juga dede bayinya ๐Ÿ˜€ Disuntik sudah, perutku digoyang-goyang agar tambah mules sudah, tapi kok si Najla belum menunjukkan tanda ingin keluar? Kulihat wajah-wajah yang sudah tampak bosan sambil berkata ke bu bidan, “Bu, apa yang bisa saya lakukan biar bayi ini keluar?”. Bu bidan memberi opsi jongkok. Oke, aku akan jongkok!

Setelah mengambil posisi jongkok, aku mulai ngeden lagi setelah kontraksi datang. Alhamdulillah, kepala Najla muncul! Lalu aku ngeden lagi sekuat tenaga dan tampak lebih jelas kepala Najla. Ternyata Najla terlilit tali pusar. Makanya dia agak lama keluar. Oh Najla, kamu hebat nak.. Sudah berusaha mau keluar. Mau bertemu Ummi dan Abi. Makasih ya nak ๐Ÿ™‚

Tali pusar sudah dibenarkan lilitannya, lalu Najla ditarik keluar oleh bu bidan. Rasanya lega sekali kawan. Najla keluar sambil menangis. Ditaruhlah Najla di dekat dadaku. Niatnya mau IMD (Inisiasi Menyusui Dini) tapi akhirnya ditempelkan juga si Najla untuk menyusu ke ibunya ^^ Sambil memandangi anakku dan memeluknya, bu bidan dan timnya mulai menjahit. Aku diberi tiga jahitan luar dalam. Nyeri-nyeri sedikit saat dijahit, tapi itu sudah tidak terlalu ย kupedulikan karena Najla sudah hadir di dunia.

Alhamdulillah.. Selamat datang anakku Najla. Semoga menjadi anak shalihah, berbakti pada orang tua, dan membawa berkah bagi kaum muslimin. Aamiin.. Bagi teman yang belum merasakan melahirkan, sebenarnya aku menulis ini bukan untuk menakuti bahwa melahirkan secara normal itu sakit. Ya.. rasanya memang sakit. Tapi rasa itu akan segera hilang setelah anak kita lahir. Buku mengenai hypnobirthing cukup bagus untuk membentuk mental bahwa kita mampu, kuat, dalam melalui proses persalinan. Semangat!! ๐Ÿ™‚

Random Post in February

Bulan Februari tahun lalu, aku melangsungkan pernikahan. Bulan Februari tahun ini insya Allah akan melahirkan buah hati. Alhamdulillah skripsi sudah selesai dan dinyatakan lulus. Sekarang bisa lebih leluasa dalam menjalani peran sebagai istri (dan ibu nantinya). Teman kuliah yang laki-laki sudah sibuk melamar kerja. Aku? Karena aku bukan laki-laki jadi nggak sibuk bikin cv. Hihi… ๐Ÿ˜€ Malah lebih sering baca-baca tentang ASI, perawatan bayi, dsb.

Sebentar lagi rencananya Pustaka Rusana Makmur akan ditutup. Agak sedih karena biasanya teman-teman kampus meminjam buku lalu kami sedikit membahas buku itu, sekarang mungkin kesibukan dan ritme hidup akan berbeda. Ya.. memang sudah waktunya. Mesti cari komunitas baru. Dan menikmati hari dengan penuh rasa syukur.

Buku yang sedang kubaca (selain berkaitan dengan dunia bayi) berjudul “Ayah” karya Irfan Hamka. Buku tentang perjalanan hidup Buya Hamka. Mudah-mudahan nanti bisa sedikit membahasnya. Kalau dipikir-pikir buku yang biasanya menarik untuk aku baca yang berkaitan dengan agama Islam, sejarah, tokoh, pendidikan, dunia anak, wirausaha dan traveling. Buku apa yang membuatmu tertarik untuk membaca? ๐Ÿ™‚

Sidang Selesai Sudah

Alhamdulillah… Kemarin sudah menyelesaikan sidang skripsi. Tinggal revisi sambil persiapan menyambut dedek bayi (insya Allah). Suami juga ikut menemani, menonton, dan membawa fotokopian skripsi lima biji. Hihi.. Syukran ya massyaikh ๐Ÿ™‚

Cuaca kemarin di Jakarta juga nggak hujan deres banget. Tapi macetnya tetep. Tiba di kampus, aku agak telat jadi terpaksa ditunda untuk maju sidang. Mohon maaf kepada bapak ibu semua. Saat sidang, rasanya seperti dimudahkan. Apa karena para dosen melihat perutku yang sudah maju ke depan? Entahlah… Tapi ada juga dosen yang benar-benar menguji kemampuanku.

Apapun hasilnya nanti, yang penting sudah berusaha yang terbaik. Untuk memulai membuat skripsi, mulailah dengan pertanyaan “mengapa?”. Karena kata “mengapa” ini menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan penelitian. Setelah “mengapa” nya mantap, barulah memikirkan tentang “bagaimana”.

Skripsiku mengenai penelitian tindakan kelas (PTK) yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Numbered Heads Together Pada Siswa Kelas VI SDN Bendungan Hilir 03 Pagi”. Hanya skripsi sederhana yang mudah-mudahan bermanfaat khususnya bagi civitas akademik Universitas Negeri Jakarta.

Maret nanti insya Allah wisuda. Semoga ilmu yang didapat semasa kuliah dapat bermanfaat, dan semakin mendekatkan diri pada Allah subhanahu wataala.

 

Skripsian Sambil Jaga Kehamilan

Wah.. sudah turun salju ya di wordpress ๐Ÿ™‚ย 

Alhamdulillah kehamilanku sedang berjalan menuju delapan bulan. Si dede bayi sudah makin terasa gerakannya. Berat badanku naik lebih dari 10 kg. Bawaannya sedikit-sedikit pingin makan terus ^^ Ini adalah pengalaman hamil yang pertama. Sepanjang kehamilan aku memang mual-mual. Tapi muntah-muntah hebat belum pernah terjadi. Baju-baju yang dulu nyaman dipakai sekarang jadi kekecilan. Akhirnya coba pakai daster.. dan nyaman juga ternyata (hore.. jadi ibu-ibu ๐Ÿ˜€ ).

Saat ini aku juga tengah berjuang menyelesaikan skripsi. Pinginnya ketika anakku lahir, skripsi sudah selesai. Biar lebih tenang menghabiskan waktu dengan si dede. Semoga Allah mengizinkan. Aku juga masih bolak-balik ke kampus naik TransJakarta. Alhamdulillah dapat kursi prioritas ๐Ÿ˜€ Suka kagum sama mbak-mbak atau ibu-ibu yang cepat tanggap dengan ibu hamil. Semoga ketika mbak-mbak atau ibu-ibu sedang hamil, Allah beri kemudahan dalam segala urusannya.

Ketika hamil sambil mengerjakan skripsi, kalau bisa si ibu jangan terlalu stres atau merasa tertekan. Hal itu sangat berpengaruh pada si bayi. Peran suami sangat penting disini. Hiburlah istrimu, beri perhatian lebih dan buat ia tersenyum. Mudah-mudahan lahir anak-anak hebat karena sang suami mencintai istrinya dengan tulus. Ketika hamil sambil mengerjakan skripsi, jangan ngotot kalau kata dosen pembimbingku. Tenang, rileks, dan all is well