Berlibur Ke Penjara

2009 December 29
by dida

Bulan ini adalah musim liburan. Banyak yang merencanakan untuk pergi ke pantai, puncak, kebun binatang, tapi.. adakah yang merencanakan untuk berlibur ke penjara? ^^

Kawan, saya termasuk orang yang percaya bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu pada hambaNya secara adil. Bahwa Allah telah mempunyai suatu tujuan tertentu yang mungkin oleh hambaNya dipandang buruk, namun ternyata banyak kebaikan didalamnya.

Salah satu puzzle kehidupan saya adalah mempunyai beberapa (beberapa? ya…! karena lebih dari satu) teman yang pernah dijebloskan ke penjara. Saya pun sempat beberapa kali mengunjungi penjara yang ada di Jakarta untuk bertemu mereka. Sebuah pengalaman yang tidak bisa dilupakan.

Ternyata hukum di negeri ini masih… Well, what should I say? Dari obrolan bersama teman maupun sesama pengunjung penjara, bahkan berdasarkan pengamatan sendiri, sepertinya hukum di negeri ini masih perlu terus dilakukan perbaikan.

Saya melihat bahwa narapidana yang mempunyai “rezeki lebih” mempunyai ruang tahanan yang lebih baik daripada napi yang pas-pasan. Ada juga napi yang (berdasarkan perbincangan bersama sesama pengunjung) salah ditangkap. Yap, karena satu dan lain hal, orang yang berada di sekitar tempat kejadian perkara pun bisa kena getahnya. Padahal ia tidak bersalah.

Sedihnya, ternyata masih banyak generasi penerus bangsa yang terlibat narkoba. Mereka datang dari berbagai golongan. Entah untuk alasan apa mereka memakainya. Apakah untuk iseng, agar terlihat keren, coba-coba, atau bentuk perlawanan kepada orangtua (kurang mendapat perhatian).

Tempat para tahanan pun tidak bisa dibilang nyaman. Yaiyalah Da, emang di hotel mau nyaman? Tapi saya berharap pihak yang berwenang lebih memerhatikan masalah ini. Penjara juga tidak selamanya buruk, ada napi yang setelah bebas menjadi lebih baik dan shaleh, meskipun ada juga yang tambah ganas.

Wah, berlibur ke penjara? Ada-ada aja ya ^^ Yah… hanya sekadar ide iseng yang tiba-tiba muncul di tengah hari.

-Bahkan kutemukan cahaya di penjara-

“Assalamualaykum Bu Haji!”

2009 December 25
by dida

Setiap muslimah berjilbab, rasanya pernah mengalami kejadian seperti ini: saat sedang berjalan di tempat umum ada mas-mas entah berantah yang mengucapkan kalimat: “Assalamualaykum Bu Haji!”

Sayapun merasakan hal demikian. Awalnya saya tidak suka, malah bisa marah kalau mood sedang tidak bagus. Rasanya ingin mendoakan hal-hal buruk akan terjadi kepada si mas-mas atau paling banter pasang tampang jutek dan nyuekin aja. Respon si mas-mas nya pun berbeda. Ada yang terus ngedumel sampai saya menjawab, ada yang menyindir dan ada yang (saya rasa) keterlaluan. Selain main keroyokan (sedang kumpul bersama teman-temannya), si mas-mas akan meledek saya. Dan mereka akan tertawa setelahnya. Jantan sekali.

Saya pribadi akan menjawab dengan suara super duper kecil (yang penting dijawab kan ya :P ), atau akan menjawab sampai berada jauh dari mas-mas baru dijawab. Kalau mood sedang bagus ya jawab di tempat :D
Walau katanya mereka mendoakan kita, tapi apakah mendoakan harus terang-terangan diucapkan? :P

Alasan mereka berbuat demikian berbeda. Menurut analisis asal-asalan saya, ada faktor-faktor penyebab tindakan ini terjadi:

1. si mas-mas nyari perhatian
2. si mas-mas nyari perhatian
3. si mas-mas nyari perhatian

Tapi belakangan ini saya sudah lumayan kebal menanggapi kasus tersebut. Kalau mereka mengucapkan kalimat sakti itu entah dengan tujuan apa, saya akan mengamini dalam hati (iyalah… siapa yang tidak mau naik haji?). Dan semoga si mas-mas jika dia seorang muslim bisa naik haji juga ^^

Seminar Budaya Minangkabau

2009 December 22
by dida

Kemarin saya mengikuti seminar mengenai budaya minangkabau yang diselenggarakan oleh KMM (Kumpulan Mahasiswa Minangkabau) UNJ. Sepertinya acara tersebut kurang dipublikasikan, saya aja baru tahu ada seminar itu kemarin, dan acaranya juga dilaksanakan kemarin. Jadinya harus memilih antara mengajar adik-adik untuk les atau mengikuti seminar.

Akhirnya terpilihlah juga si seminar. Karena jarang-jarang ada acara seperti ini. Ternyata acara ini dikhususkan untuk anak-anak rantau yang mencari ilmu di Jakarta, agar tetap mempertahankan keminangannya. Tapi bukan berarti orang lain (non-minang) tidak boleh ikut. Bahasa yang digunakan saat seminar adalah baso (bahasa) minang. Saya yang minang abal-abalan hanya bisa tersenyum saat orang lain sedang tertawa karena memang saya belum mengerti bahasa minang. Sedikit sekali perkataan yang saya mengerti, seperti: disiko (disini), nak (ingin/mau), pitih (uang), cie, duo, tigo, ampe, dll. Wah… amatiran banget ya? :D

Papa saya lahir di Solok namun besar di Jakarta. Menghabiskan masa kecilnya di Jakarta. Lalu menikah dengan mama yang asli orang Jakarta (Betawi asli). Yasudah.. Jadilah bahasa minang merupakan bahasa yang terdengar asing ditelinga.

For Your Information, orang Sumatra Barat lebih suka dibilang “orang minang” daripada “orang Padang”. Kenapa? Karena tidak semua orang minang berasal dari Padang. Ada yang berasal dari Solok, Bukittinggi, dsb. Etnis minang menganut falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK).

Hal lain yang saya dapat adalah bahwa terdapat banyak suku di minang. Papa berasal dari suku Chaniago, diacara itu terdapat berbagai macam suku. Lalu, ternyata orang dari satu suku tidak boleh menikah dengan sesama suku. Kalau toh hal ini tetap dilakukan, boleh saja… tapi dia tetap menanggung konsekuensinya. Seperti pengendara motor yang tetap menerobos maju walaupun lampu lalu lintas sudah berwarna merah, dia akan menerima akibat perbuatannya seperti diklakson (diberi peringatan) oleh pengendara lain atau hal tidak menyenangkan lainnya.

Sebenarnya, tidak hanya budaya minang, budaya lain juga mengalami tantangan berat akibat pengaruh globalisasi.

“Masuak kakandang kambiang mambebek, namun bapantang awak jadi kambiang” read more…

Mereka Bilang Saya Gila!

2009 December 20
by dida

Sebenarnya sudah cukup lama membaca bukunya. Tapi baru dibahas sekarang :D Ndak apa-apa ya because I just want to write :P

Oke.. Siapa sih yang tidak kenal Bob Sadino? Ada sih… temanku di kampus ^^ Bagi yang belum kenal, om Bob (begitulah saya biasa memanggilnya>>kayak udah kenal gituh) adalah seorang pengusaha “unik” yang berasal dari Indonesia. Mengapa saya bilang “unik”? Yap! Karena om Bob sedikit berbeda dengan pengusaha lain.

Selain penampilannya yang khas (beliau sering mengenakan celana pendek), om Bob memiliki pemikiran yang cukup merubah paradigma saya. Sebelumnya paradigma ini sudah diubah sejak SMP setelah membaca buku “Rich Dad Poor Dad” karangan Robert T. Kiyosaki tentang dunia entrepreneur. Namun kali ini om Bob melengkapinya dengan memberikan “tamparan-tamparan” khas dari beliau.

Pernahkah anda merasakan apa yang anda pelajari di sekolah tidak berguna bagi masa depan anda? Atau sudahkah melihat fakta bahwa banyak “pengangguran berpendidikan” yang bertebaran di negeri ini? Hm… rasanya kok susah ya mencari lapangan pekerjaan? Tapi jangan pernah menyerah, dimana ada kemauan, disitu ada jalan!

Namun ternyata bekerja “saja” tidak cukup. Mari kita menciptakan lapangan pekerjaan, karena gerakan kewiraswastaan adalah salah satu faktor pemicu kebangkitan Indonesia. Bukankah Rasulullah juga berbisnis?

Kembali lagi ke buku ini, kita bisa mendapat ilmu beserta pengalaman, serta melihat sisi lain dari om Bob. Bahwa hidup tidak selamanya indah. I think, it’s worth to read :) Bagi yang sudah baca monggo kasih uneg-unegnya ke saya.

Berhentilah membuat rencana! Melangkah lah! (Bob Sadino)

Related site:

http://bobsadino.com/

Konsep Dasar Kurikulum

2009 December 19
by dida

Pengertian

Latin:

*  Curere= berlari cepat

*  Curriculum= jarak yang harus ditempuh pelari mulai dari start hingga finish

Kamus Webster’s (1857)

  • curriculum= sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas atau mendapatkan ijazah

Robert Zais read more…

Indonesia Dimataku

2009 December 17
by dida

Rise o youth of Indonesia
Prepare yourself for this country
The Future of this country is in your hand
It is in your responsibility for this country
It is in your responsibility for this country

Alway endeavor, honest and sincere
Limit your speech keep your hard work
Strong Integrity Focus with a clear mind
Be polite o sons of this country
Be polite o sons of this country
(Bangun Pemudi Pemuda Indonesia)

Berbicara tentang Indonesia, teringat perkataan seorang teman yang pernah berkata kurang lebih seperti ini: “Kenapa kita gak lahir di Brunei aja? Negaranya makmur gitu?…”. Aku tertawa getir. Termenung.

Sebut saja temanku yang berbicara itu bernama Lita. Bukan tanpa sebab Lita berbicara seperti itu. Saat itu kami tengah mengurus berkas untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ketidakjelasan informasi serta kerumitan pendaftaran membuatnya kesal sehingga membuat uneg-uneg seperti itu.

Hal ini terus berlanjut, awalnya aku tidak terlalu peduli dengan negara dimana aku dilahirkan: Indonesia. Sampai gerakan Indonesia Unite yang hadir disebabkan Malaysia mengklaim budaya Indonesia (CMIIW) menjadi miliknya begitu cepat meluas, hal ini cukup mengusik ketidakpedulianku. Para pengguna twitter pun menambahkan sebuah gambar bendera merah putih berukuran kecil di sudut kanan bawah foto profilnya. Ah… Hebat! Terima kasih Malaysia, kau sudah membangunkan lamunanku dan generasi muda lain bahwa kami merupakan generasi penerus bangsa, yang sudah seharusnya lebih peduli terhadap kemajuan negerinya.

Tidak berbeda dengan Lita, yang tiba-tiba “menyalahkan” negerinya padahal panitia penyelenggara ujian masuk perguruan tinggilah yang seharusnya diberi masukan, akupun berpikiran sama pada awalnya.

Pertanyaan pun muncul, apakah aku bangga menjadi warga negara Indonesia? Dengan begitu banyaknya persoalan di negeri ini, termasuk masalah hutang, KKN, dan lain sebagainya.

Yah… dibilang bangga sih tidak terlalu, tapi aku berusaha “mencintai” negeri ini. Negeri tempatku dilahirkan. Negeri dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Ya… di negeri inilah aku mengenal ajaran Islam.

Lagipula, apa yang sudah aku berikan kepada negeri ini? Mudah-mudahan aku bukan termasuk tipe orang yang suka menuntut tanpa memberikan sesuatu terlebih dahulu.

Dan semoga negeri ini bisa menjadi lebih baik. Jadi sejalan antara orang yang sudah berusaha keras ingin melakukan perubahan dengan perubahan itu sendiri.

-Perdjoeangan belum berakhir-

International Seminar In State University of Jakarta

2009 December 14
by dida

Today I’ve attended ICT seminar. The resources persons are Prof. Romizowski and Prof Yusuf. From that activity, I know how poor my english. Honestly it’s difficult for me to understand the whole discussion. He speaks fast and the environment isn’t good for me to listen (I sat in the back-so far from the speaker and the audience were talking a lot).

Talking about education in Indonesia, we will meet several problems that need to be solved. Hm… its so sad to remember that not all people in Indonesia could get a good education. Education is out of reach because it’s expensive. Oh my… with all the prosperity (natural resources) in Indonesia, there are a lot of people who still starved. What happened?

Back to the seminar, I can get the point that online learning is good to be implemented especially for the country like Indonesia which consist of many island.

-Hm… it’s time to have a dinner-

Delapan Cara Membina Kejujuran Anak

2009 December 12
by dida
  • Jangan mempermudah anak mengatakan ketidakbenaran

Jangan bertanya “Apakah kamu makan es krim hari ini?” Ketika anda tahu bahwa jawaban anak bisa tergelincir menjadi “tidak” (berbohong). Sebaiknya katakan, “Eh, tadi mama lihat kamu makan es krim lho”.

  • Permudahlah anak mengatakan kebenaran dengan tidak memojokkannya

Jika anda mengatakan “gelas jus ini kok ada di lantai ya? Mama kira ada yang menumpahkan nih”. Lebih mungkin mendapat pengakuan daripada menuduh dan memojokkan, seperti “jus buahnya tumpah pasti ada yang menumpahkan”.  Pernyataan ini hanya akan menimbulkan penolakan anak karena ia takut.

  • Memberi penghargaan anak ketika ia jujur

Jika  seorang anak usia 3 tahun mengakui telah mencoret crayon di dinding lalu ibunya member reaksi marah, mudah dimengerti mengapa anak kemudian takut mengakui kesalahannya di kemudian hari.

  • Membantu anak melihat kebenaran secara utuh

Seringkali seorang anak mengingat sebagian dari apa yang terjadi. Pada saat itu ia tidak bermaksud berbohong, hanya daya tangkapnya yang belum lengkap. Alih-alih merasa jengkel, coba bantu dia mengingat kembali seluruh cerita.

  • Jangan membuat anak berbohong

Terlalu banyak tekanan, standar terlalu tinggi, hukuman yang terlalu berat, semua dapat menjuruskan anak untuk berbohong agar terhindar dari konsekuensi yang tidak menyenangkan.

  • Jangan memaksa anak mengaku

Jika anda tidak dapat pengakuan spontan anak, janganlah menginterogasinya, jika anda dan anak sama-sama tahu bahwa anak melakukan kesalahan, tidak perlu memaksa dia mengaku kesalahan saat itu juga karena akan memperburuk keadaan, coba beri anak waktu.

  • Mempercayai anak

Kebenaran dan kepercayaan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Jika anda jujur, anda akan dipercaya. Jika anda dipercaya, anda akan jujur. Biarkan anak tahu anda mempercayainya. Pastikan pula anak juga mempercayai anda, karena itu berusahalah selalu menepati janji-janji anda, dan jika tidak bisa, pastikan anda memberikan penjelasan dan permintaan maaf.

  • Menjadi teladan kejujuran

Sekali lagi, tidak ada yang bisa lebih mengajarkan kejujuran pada seorang anak daripada contoh dari orangtuanya, bersikap jujurlah dalam tindakan anda, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Bahkan “kebohongan yang kecil” sekalipun dapat mengganggu pemahaman seorang anak akan nilai kejujuran.

sumber: buku pendidikan anak dini usia. karangan Dr. Anwar dan Ir. Arsyad

Masukan untuk Transjakarta Busway

2009 December 11
by dida

Saya pengguna setia Transjakarta. Setiap senin sampai Jum’at (kecuali Kamis, agak jarang masuk) memakai transportasi umum ini untuk pergi ke kampus. Harga tiketnya dua ribu rupiah saja pada pagi hari (hanya sampai jam tujuh, lewat dari itu, harganya tetap tiga ribu lima ratus rupiah). Jadi… lumayan banget kan? Harga sama dengan kopaja, bisa lebih cepat sampai kampus pula.

Sampai sejauh ini Transjakarta saya beri nilai “baik”, namun tidak sepenuhnya baik. Belum ada WC di shelter busway (hu… maunya!). Tapi beneran deh, coba aja ada… lebih bagus :D Lalu tentang jumlah orang yang masuk busway… Hm… terkadang udah gak bisa napas dalam bus tapi tetep aja dipenuhin :P Beberapa koridor yang telah dibuat juga belum dipakai sampai shelternya berdebu. The good news is… sudah ada tempat sampah didalam busway! Jadi gak ada alasan untuk buang sampah sembarangan.

Setelah mengingat kejadian kemarin…

Di UNJ juga ada shelter busway. Nah inilah yang sebenanrnya ingin sekali disampaikan. Tolonglah mbak petugas karcis… LEBIH RAMAH DAN SOPAN terhadap pelanggan busway. Karena gak hanya saya yang mengeluhkan hal ini. Banyak teman saya yang juga merasakannya baik sesama maupun yang beda jurusan.

Tidak usah dijelaskanlah keluhan-keluhan ala mahasiswa, nanti kepanjangan jadi bikin cerpen. Intinya tolong… banget kejadian ini gak terulang lagi. Semoga bisa menjadi masukan bagi para penyelenggara jasa transportasi ini.

Mampukah Sekolah Wirausaha?

2009 December 10
by dida

Paradigma baru dihembuskan, khususnya di bidang pendidikan tinggi, tentang kian perlunya kemampuan intelektual individu Indonesia menciptakan bisnis atau wirausaha di segala bidang. Hal ini tak lepas dari semakin lebarnya jurang antara jumlah tenaga kerja yang tersedia dan jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Pentingnya pendidikan tinggi karena dari sanalah diharapkan pertumbuhan wirausahawan baru dapat dipercepat untuk menciptkan pertumbuhan lainnya yang sangat diperlukan.

Sementara saat ini, salah satu penyebab titik lemah ekonomi Indonesia adalah masih kurangnya jumlah perusahaan formal serta perkembangannya yang lambat. Bisa dilihat, banyak perusahaan yang tumbuh besar saat ini karena diawali dengan model usaha kecil dan menengah (UKM) atau small medium enterprise. Mereka dimotori oleh semangat kewirausahaan yang kokoh sebagai penggerak roda perekonomian yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Sekolah Wirausaha, Kenapa Tidak?

JAKARTA, KOMPAS.com — Jurang antara jumlah tenaga kerja dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia saat ini semakin lebar. Di bidang pendidikan tinggi, hal tersebut sedikit banyak telah meniupkan paradigma baru tentang kian perlunya kemampuan intelektual individu Indonesia untuk menciptakan bisnis atau wirausaha di segala bidang. read more…