Feeds:
Posts
Comments

99 Cahaya di Langit Eropa

Pernah mendengar kata “jihad”? Apa yang ada di pikiran kawan bila mendengar kata itu? Perang? Kekerasan? Bagaimana kalau mengartikan jihad menjadi seperti ini: jihad adalah usaha kita (muslim) yang sungguh-sungguh untuk menjadi seseorang yang dapat menghayati sepenuhnya kalimat Laa ilaha illallah. Karena pernah saya membaca, perang di jalan Allah dalam membela agama punya istilah lain, yaitu qital (correct me if im wrong).

Lalu apa hubungannya jihad dengan buku ini?

99 Cahaya di Langit Eropa adalah buah karya Hanum Salasabiela Rais (putri bapak Amien Rais) dan suaminya, Rangga Almahendra. Berisi kisah perjalanan mereka menjelajahi peradaban Islam di benua Eropa. Banyak fakta unik, menarik, dan keren dalam buku ini, yang sayang sekali bila terlewatkan. Betapa peradaban Islam pernah berjaya. Dan Allah pergilirkan masa kejayaan itu agar manusia belajar untuk mengambil hikmahnya.

Sekali lagi, apa hubungan buku ini dengan jihad?

Tentu ada hubungannya. Seorang penulis pastinya ingin menyampaikan pesan kepada pembacanya. Mbak Hanum berusaha menggiring pembacanya melihat jihad dalam perspektif yang berbeda. Selanjutnya, silahkan dibaca bukunya :)

Garis Batas

Kalau sudah membaca  Selimut Debu, kawan akan lebih nyambung membaca buku ini. Garis Batas berisi kisah perjalanan Agustinus Wibowo menjelajahi negeri-negeri di Asia Tengah yang terlupakan. Pernahkah mendengar kata Turkmenistan? Tajikistan? Dan negeri berakhiran “stan” lainnya? Mungkin pernah. Namun, sebenarnya ada apa dibalik negara-negara tersebut?

Garis Batas. Dengan adanya perbatasan, maka muncullah negara-negara. Muncul kebanggaan, arogansi, budaya, bahkan keimanan. Cukup lama saya merenungi isi buku ini. Sang penulis lebih terbuka untuk memberi tahu jati dirinya dibandingkan di buku yang pertama. Continue Reading »

Tugas Akhir

Bulan Desember, bulan banyak tugas. Para dosen hobi sekali memberi tugas. Tak apa-apa. Tak perlu dibawa stress. Nanti malah nggak selesai tugasnya.

Selow, kalau kata temen-temen :)

Bayangkan saja betapa leganya kalau semester 5 sudah berlalu, dan hasil kerja keras sudah terlihat.

Karena bisa saja (suatu saat) kau akan merindukan banyak tugas.

Merindukan ketika suasana tertekan malah jadi bahan tertawaan, bersama teman-teman.

Semangatlah, kawan…

Dari Jauh

Dari jauh kupandangi surau itu
Berharap suatu ketika berada disana
Ditemani hening, ditemani syahdu

Kadang waktu jadi penentu

Tentang bahagia yang ternyata sederhana
Namun suka ditinggikan persyaratannya

The Finland Phenomenon

Kunci keberhasilan pendidikan di Finlandia terletak pada guru-gurunya yang berkualitas. Benarkah hanya itu? Sila disimak film ini ya :)

Haji

Setelah ditinggal selama 40 hari, akhirnya mamaku pulang dari ibadah haji. Suatu hal yang ditunggu-tunggu mama sejak dulu, akhirnya kesampaian juga. Meskipun ada hambatan disana-sini, kalau Allah mengizinkan, maka terjadilah.

Dari cerita beliau, ada beberapa hal yang kuingat:

1. Berhajilah selagi muda. Karena ibadah haji membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, apalagi untuk kaum hawa

2. Kalau memungkinkan, pergi haji jangan sendirian (if you know what I mean)

3. Secara matematik mamaku belum mampu pergi ke tanah suci, tapi “matematikanya” Allah itu beda :) Berusaha menabung dari sekarang

4. Shalat jenazah jadi sering sekali disana, karena ada saja orang yang meninggal

5. Bawalah kesabaran yang banyak

6. Pergi haji juga perlu ilmu

7. Untuk kaum perempuan berhati-hatilah kalau naik taksi atau kendaraan umum lain, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

8. Disana, Allah dan RasulNya terasa begitu dekat. Banyak-banyaklah berdoa

9. Keep smiling! Kita akan bertemu saudara-saudari dari dari berbagai negara. Bisa berbahasa Arab maupun Inggris lebih bagus, meski orang-orang disana (terutama pedagang) bisa berbahasa Indonesia

10. Niatkan beribadah untuk meraih ridho Allah, sekaligus melaksanakan salah satu rukun Islam. Bukan hanya untuk meraih gelar. Bukan pula karena gengsi.

Sarden

Setiap kota memiliki waktu-waktu yang sibuk. Atau sebutlah peristiwa ini dengan nama Rush Hour. Tapi sepertinya Jakarta adalah kota yang selalu sibuk ya? :) Gambar diatas iseng-iseng saya ambil saat sedang Rush Hour, tepatnya didalam TransJakarta. Mulai jam 5 sore, saya harus bersiap-siap menjadi sarden, bersiap-siap berhimpitan dengan penumpang lain. Kaki terinjak sudah biasa. Badan didorong lumrah-lumrah saja. Para wanita akan menjadi lebih beringas dan para pria kadang lebih aktif berbicara daripada biasanya. Oh.. Inilah derita mahasiswa -.-

*London Rush Hour

*Tokyo Rush Hour

 

Esplanade

Sudah tiga tahun berlalu, sejak hari itu

Dan lima bulan kedepan, sejak hari ini

Bila memang diizinkan, nanti kita bertemu lagi :)

Masak Itu Capek!

This slideshow requires JavaScript.

Gara-gara mata kuliah metodologi penelitian (metlit) pendidikan, semester 5 ini jadi bolak-balik mengunjungi sekolah-sekolah, salah satunya ke sekolah adek saya, di SMKN 57 Jakarta. SMK ini letaknya tak jauh dari rumah saya, cukup sekali naik angkot saja. Nah, dari hasil observasi ke SMK ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: memasak itu capek :D

Iya, capek..

Mulai observasi pagi-pagi dan selesai bada zuhur. Peserta didik memasak sambil berdiri dan tidak ada waktu istirahat. Pantas saja yang lebih cepat selesai kebanyakan laki-laki, karena tenaganya lebih banyak. Resep yang dipilih dalam memasak adalah yang sedang in dalam bidang industri perhotelan. Buku yang dipakai sebagai rujukan yaitu “Professional Cooking” karya Wayne Gisslen.

Setelah selesai memasak, peserta didik tampak berkeringat dan berwajah lelah namun puas akan hasil masakannya. Jadi sekarang saya paham kenapa kalau adek saya pulang sekolah sehabis praktek memasak biasanya dia langsung rebahan. Memasak itu capek, jenderal! :D

Tapi kalau sudah terbiasa memasak dan resep yang digunakan sederhana, mungkin akan berbeda ceritanya :)

Botanical Garden

Disana, ketika orang banyak berolah raga, ia memilih jalan perlahan-lahan. Ke tempat sepi supaya bisa menyendiri. Meski tahu bahwa tak pernah ia benar-benar sendiri. Perihal apa yang membawanya kesana? Ternyata tentang kebaikan dan keburukan, yang telah ada sejak Nabi Adam. Ia lalu melewati jembatan kayu, yang tak pernah berubah sejak dahulu.

Melihat wujud dari kata-kata. Itu yang ia tunggu. Daun telinganya masih terbuka lebar untuk mendengar.  Matanya masih digunakan untuk melihat. Namun hatinya terkunci sudah mulai menyeleksi.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers