Kemarin saya mengikuti seminar kewirausahaan dengan tema “Pandangan Dunia Pendidikan terhadap Gagasan Kewirausahaan” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (mayoritas angkatan 2009). Pembicara dalam acara ini adalah Prof. DR. H. Arief Rachman, Mpd, Ir. Bambang Juwono da I Putu Surya Negara. Saya dengan bersemangat datang ke acara tersebut dengan tergesa-gesa, karena takut telat (acara dimulai jam delapan dan saya kemarin pagi bangun agak telat). Ternyata eh ternyata… Entah sudah merupakan budaya atau bagaimana, saat tiba di tempat jam delapan kurang sepuluh, masih sepii sekali. Baru ada panitia dan beberapa orang dosen. By the way, anyway, busway mana nih peserta yang lain? Gara-gara hal itu, saya prediksikan akan terjadi ritual ngaret yang menyebabkan cadangan semangat yang membara sedikit berkurang.

Sesi pertama diisi oleh Ir. Bambang Juwono, beliau adalah pengusaha dibidang software pembelajaran. Tau pesona edukasi? Yang belum tau bisa kesini. Sebagai seorang teknolog pendidikan, kita ditantang untuk membuat software-software seperti ini. Jika Swiss terkenal dengan produksi jam, Korea rajanya pengembang game, Perancis mengunggulkan fashion, Jepang dengan mobilnya, mengapa Indonesia tidak dengan Education Software? Kita bisa… asal ada komitmen beserta fokus, fokus, dan… fokus.

Prof. DR. H. Arief Rachman, Mpd datang agak telat. Entah mengapa :( Tapi kedatangan beliau benar-benar telah mengembalikan semangat yang tadinya sempat meredup. Bagaimana tidak? Di usianya yang sudah 60-an beliau masih aktif dan dinamis. Dalam menyampaikan materi juga tidak membuat ngantuk, dapet banget feel-nya, masuk juga materinya. Kalau kata kaskuser: “Mantap Gan!”

Selepas materi yang diberikan Pak Arief, ada waktu ishoma (istirahat sholat makan). Lalu disambung lagi dengan materi yang diisi oleh bapak I Putu Surya Negara. Saat sesi terakhir, panitia memberikan doorprize yang diberikan kepada pak Putu. Maksudnya, pak Putu boleh memberikan pertanyaan atau games kepada peserta. Langsung saja beliau berkata “Yang mau doorprize, maju kedepan!”. Saya lirik peserta lain mengacungkan tangan terlebih dahulu dan berkata “saya-saya!” sambil mengangkat tangan. Tanpa ba-bi-bu lagi langsung saya maju kedepan dan… Yes! Alhamdulillah doorprize tersebut menjadi milik saya :P Apa maksud dari pak Putu tersebut? Seorang pengusaha harus action, jangan ngomong doang^^

Dapet snack, sertifikat, makan siang, doorprize serta tidak ikut salah satu mata kuliah dengan hanya tiga puluh lima ribu rupiah, overall acara ini: mantap! Doumo Arigatou Gozaimasu m(_ _)m

Kolega saya itu mengatakan, “Memang butuh waktu lama, tetapi akhirnya saya paham. Bila sampai pada masalah pria yang tertarik pada kita, sebenarnya sederhana sekali. Abaikan saja semua yang mereka katakan dan hanya perhatikan apa yang mereka lakukan.”

Itu saja. Nah, itu untukmu Chloe.

***

Itu tadi sepenggal kisah yang bisa dibaca dari buku The Last Lecture (Pesan Terakhir) yang diterbitkan oleh UFUK. Buku itu mengisahkan tentang Prof. Randy Pausch yang menderita kanker pankreas dan divonis akan hidup hanya dalam tiga sampai enam bulan. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, karena beliau seorang Profesor, ia membuat sebuah lecture yang ditampilkan dalam slide power point. Ada beberapa kalimat yang menarik dan semoga bermanfaat :)

“Singa yang terluka pun ingin tahu apakah ia masih bisa mengaum”

(more…)

Seekor kura-kura memang hanya mampu berjalan merambat tetapi hal demikian akan jauh lebih baik daripada diam terpaku dan menyerah pada nasib. Ia memiliki rumah sekaligus alat pelindung yang terdiri dari lapisan kutikula yang amat keras agar tak mampu ditembus oleh tajamnya gigitan singa jantan sekalipun, karena hal ini akan membawa rasa aman dan nyaman jika suatu ketika saat kura-kura menyembunyikan kepalanya di dalamnya, bukannya tidak bertanggung jawab meninggalkan telur, tetapi adalah upaya yang baik agar anak keturunannya kelak sudah sejak dini telah diajarkan sikap kemandirian agar mampu bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri. (E. Yudiantoro)

Alhamdulillah semester pertama telah terlewati dengan nilai yang cukup memuaskan. Berjuang untuk semester berikutnya! Tentunya harus dengan niat yang ikhlas dan cara yang “bersih”. Ini dia mata kuliah yang akan saya tempuh:

#Psikologi Perkembangan
#Pendidikan Kewarganegaraan
#Landasan Teknologi Pendidikan
#Pengantar Komunikasi Visual
#Bahasa Inggris
#Dasar-dasar Fotografi
#Pengembangan Media Sederhana
#Komputer Grafis

Nanti semester 3 sudah mulai ada “penjurusan” lagi: teknologi kinerja, media pembelajaran dan… waduh kok lupa namanya ya? Yang pasti tentang kurikulum. I think I’ll choose the last one. Ganbatte Kudasai!!

Bagi Mie Lover, ini ada resep yang bisa dicoba sebagai variasi masakan. Bosen kan makan mie pake telur melulu :P (Diambil dari buku: Varian Sajian Dahsyat Mie Penuh Hasrat: Xekspresi).

A. Bahan-bahan:

*2 mie instant, rebus, tiriskan

*10 udang, buang kulit dan kepalanya, rendam sebentar dengan air jeruk (kalau saya diganti bakso saja)

*2 sosis sapi, iris-iris

*6 buah daging cincang yang sudah dipadatkan dan siap pakai

*6 buah jamur, iris-iris

*daun sawi secukupnya (more…)

Belakangan ini terjadi perdebatan sengit antara saya sebagai seorang anak dengan papa dan mama sebagai orang tua (oke, gak selebay ini kok). Ceritanya, adek saya yang kelas 3 SMP insya Allah akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya yang merasa pelajaran-pelajaran di SMA tidak terlalu menyiapkan kita untuk menghadapi kehidupan “real” (CMIIW) menyarankan si adek untuk masuk SMK jurusan tata boga. Karena kenapa? Karena jelas… SMK sudah ada penjurusannya seperti tata boga, dll. Lulus SMK pun kalau kreatif bisa buka usaha, kan ya?

Ide ini sempat mengusik pikiran mengenai kurikulum di SMK. Sebagai mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri mengenai kurikulum SMK ini ^_^

Back to topic, ada yang bilang kedepannya SMK akan lebih diminati daripada SMA. Well, we will see. Adik saya pun ketika ditanya tertarik atau tidak untuk lanjut ke SMK dianya masih ragu juga karena kakak-kakaknya melanjutkan ke SMA semua. Hm… tidak mudah juga sih merubah suatu “tradisi”. “Masak-memasak bisa dipelajari sendiri”. Ya iya sih, tapi saya pikir ilmu-ilmu lain juga begitu, bisa dipelajari sendiri tapi kita membutuhkan guru dan lingkungan yang mendukung. Ada juga yang bilang kualitas SMK yang (katanya) belum sebagus SMA. Hm… Benarkah? Menurut saya tergantung dilihat dari segi mananya.

Saya harap kedepannya SMK benar-benar akan lebih diminati dan pendidikan di negeri ini bisa lebih baik lagi~

Sudah lumayan lama ga ngeblog nih. Sorry readers, lagi sariawan parah sama sibuk beres-beres rumah mau pindahan. Hari ini Alhamdulillah berkesempatan hadir di wira usaha muda expo di JCC (Jakarta Convention Centre) di Senayan. Saya dan mama berangkat agak sore, sekitar jam tiga. Tadinya agak ragu masih buka gak ya acaranya? Saat tiba disana agak terkejut karena ternyata ramai juga yang berkunjung.

(more…)

Terima Kasih Mama, Papa, atas nama yang indah yang telah kalian berikan
Moga aku bisa menjadi apa yang telah kalian doakan melalui nama ini

-Dalila Sadida, 18-01-2010-

Banyak orang tua yang memberi les tambahan kepada anaknya dengan harapan si anak ilmunya bertambah atau mendapat nilai yang baik di sekolah. Ada juga alasan lain seperti memanfaatkan waktu luang anak agar tidak main game melulu, atau karena orang tuanya super sibuk makanya anaknya di les-in banyak banget.

Saya memiliki murid les, sebutlah namanya Okti. Selain les sama saya (biasanya yang diajarkan matematika dan bahasa Inggris), dia juga ikut kumon (matematika), ecole (les bahasa) dan ngaji di masjid Al-Abrar. Murid SDN Menteng 01 ini terbilang sangat rajin. Jarang saya lihat dia mengeluh. Ketika ditanya cita-citanya apa, dengan mantap dia menjawab: dokter! Bagus sekali Okti! Semoga cita-citanya tercapai ya.

Jadi ingat… Saat kecil saat saya ditanya cita-citanya apa, karena bingung, akan saya jawab: dokter! Seperti tidak ada option lain saja ya ^^.

Terkadang saya menemui kesulitan dalam mengajar. Ada anak yang, saya rasa, sangat tertinggal dalam pelajaran tertentu, dan saya rasa itu benar-benar ketinggalan :( Tapi kok bisa naik kelas ya? *berpikir kejam* Ah.. kau mengingatkanku dek, saat SMA saya tidak terlalu mengerti apa itu fisika toh nyatanya alhamdulillah naik kelas juga :P

Kembali ke Okti, dia memiliki seorang ibu yang sangat perhatian. Singkatnya, sang ibu tidak hanya membiarkan si anak mendapat les tambahan, lalu urusan sudah selesai. Selalu saja, jika Okti mendapat nilai jelek atau apapun, ibunya akan memberitahu saya. Hubungan mereka berdua pun terlihat akrab. They look like a friend.

Begitulah, kombinasi murid-guru-orang tua sangat bagus bagi kemajuan si anak. Karena orang tualah guru pertama dan utama bagi seorang anak. Yap, orang tua (terdiri dari ayah dan ibu).. :D

Next Page »